SEBAGAI penderita kanker hati yang kronis, yang kemudian nyawanya “disambung” lewat cangkok hati made in RRT, sesungguhnya kehidupan Dahlan Iskan riskan sekali. Dia tak boleh capek, tidak boleh flu, karena bisa mengancam jiwanya. Tapi dasar sukang nganggur (pantang diam), pemilik grup “Jawa Pos” itu masih juga mau jadi pekerja sosial, dari Dirut BUMD di Jatim, Dirut PLN, dan Meneg BUMN. Akhirnya, gerakannya yang mau serba cepat itu menyebabkan dia terancam masuk penjara 6 tahun.
Dahlan Iskan dan Jokowi sebetulnya berangkat dari medan yang sama, sama-sama berasal dari keluarga miskin di masa kecilnya. Mereka sama-sama hidup sederhana, kerja serba cepat, berbaju putih celana hitam, sama-sama pernah jadi pejabat eksekutif. Cuma Dahlan Iskan tidak kewahyon (tak ada wahyu). Ketika ikut konvensi Capres Demokrat, meski nilainya tertinggi Pak SBY kurang pede untuk melepaskan Meneg BUMN itu ke bursa Capres 2014. Sedangkan Jokowi Gubernur DKI Jakarta, berkat dukungan PDIP berhasilah menjadi presiden ke-7 RI.
Menapaki karier wartawan lewat koresponden Tempo di Balikpapan, Dahlan Iskan yang bertangan dingin itu berhasil membangun koran “Jawa Pos” menjadi terbesar di Jatim. Di berbagai kota membentuk koran daerah bernama depan “Radar”. Karena tenaga terforsir, akhirnya Dahlan Iskan terkena penyakit liver kronis (serosis), yang alternatif satu-satunya hanyalah lewat cangkok hati di RRT (2007). Operasi sukses dan berkat hati Cina itulah Dahlan Iskan justru tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Usia Pepabri, tapi penampilan Akabri.
Biaya operasi cangkok hati itu mencapai Rp 4 miliar. Bagi orang biasa rata-rata, harus operasi dengan biaya sebesar itu, pastilah pasrah lebih baik mati saja. Tapi karena Dahlan Iskan pernah berkekayaan mencapai Rp 151 miliar (2011), itu jumlah yang sangat keciiiiil. Maka baginya soal biaya no problem. Problemnya justru nasihat dokter RRT itu, yakni tak boleh capek, tak boleh flu, dan setiap hari harus minum obat.
Kepiawian Dahlan Iskan mengelola Jawa Pos menjadi rajanya koran di Jatim, menjadikan banyak yang tertarik untuk merekrutnya. Maka dia pernah menjadi Dirut PT PWU, sebuah BUMD di Jawa Timur. Lalu Dirut PLN, dan juga Meneg BUMN. Semua dikerjakan tanpa pamrih, tak mengambil gaji dan fasilitasnya. Maka banyak orang menamai, Dahlan Iskan ini manusia: legan golek momongan alias kurang kerjaan.
Sebab sebagai orang kaya, tentunya dia cukup duduk manis di rumah, baca koran, momong cucu, atau bakar singkong jika ingin bernostalgia kemiskinannya di masa kecil. Tapi karena sifat sukang nganggur-nya itulah pekerjaan-pekerjaan yang memeras otak dan keringat itu disanggupi juga, meski semuanya gratisan. Tekad dia memang hanya satu, ingin berterima kasih pada Allah Swt yang telah “memperpanjang” umurnya, dengan cara berdarma-bakti buat kemajuan bangsa dan negara.
Karena sifat sukang nganggur-nya tersebut, dia pernah dikritik DPR sebagai menteri yang kampungan. Masalahnya, Dahlan Iskan saat RDP di DPR sengaja masukkan botol air mineral di balik bajunya. Padahal itu merupakan salah satu cara menjaga kondisi tubuhnya di ruangan yang ber-AC.
Selama menjadi Dirut PLN, listrik jarang sekali terjadi pemadaman. Ketika menjadi Meneg BUMN, banyak BUMN sakit berhasil disehatkan. Tapi ketika ikut konvensi Capres Demokrat, meski meraih nilai tertinggi, Ketum Demokrat SBY kurang pede untuk menurunkan ke gelanggang sebagai Capres. Maka nasibnya benar-benar seperti Wisanggeni –sebagaimana pengakuannya– dia tidak ikut Perang Baratayuda (pilpres) 2014.
Setelah tak menjadi menteri, sepertinya dia tak punya gigi. Berbagai kasus dimunculkan, dari “penyalah gunaan” wewenang saat jadi Dirut PLN, mobil listrik, sampai penjualan aset BUMD saat di PT PWU. Dalam perkara ini Dahlan Iskan dituntut hukuman penjara 6 tahun. Pekerja sosial yang benar-benar ketiban sial. (Cantrik Metaram).





