Di Udara (Seharusnya) RI Jaya

Enam pesawat latih KT-1 Wong Bee tim Jupiter TNI AU dalam formasi saat demo aerobatik HUT ke-71 TNI AU (9/4) (Liputan 6)

DECAK kagum masyarakat terutama anak-anak tampak saat menyaksikan atraksi aerobatik dan manuver “rajawali-rajawali” pengawal dirgantara pada HUT ke-71 TNI Angkatan Udara di cakrawala Jakarta,  Minggu (4/9).

Enam pesawat latih bermesin satu, KT-1 Wong Bee ex Korsel dari tim Jupiter TNI AU meliuk-liuk, menggelinding (rolling) dan melakukan berbagai manuver termasuk membuat simbul hati atau “cinta” dari bubuk asap yang dilepasnya.

Masing-masing dua jenis pesawat tempur buatan AS, F-16 buatan AS dan Sukhoi SU-27 dan SU-30 buatan Rusia milik TNI AU memeragakan manuver pertempuran udara jarak dekat atau “dog Fight ”, saling berkejaran, melesat naik, kemudian menukik tajam, sambil melepas “flare” (kembang api-red) guna mengecoh lawan.

Tidak kurang 132 pesawat tampil pada pemeran statis dan dinamis di Lanuma Halim Perdana Kusuma seperti  pesawat angkut C-130 Hercules, pesawat latih dasar Grob G-120 TP buatan Jerman, pesawat latih lanjut  KT 50i Golden Eagle buatan Korsel dan HS Hawk-209 buatan Inggeris, pesawat anti gerilya Super Tucano buatan Brazil, pesawat tempur F-16D blok 52 (bagian dari 24 unit hibah dari AS), Sukhoi SU-27 dan SU-30.

“Fly pass” atau terbang lintas berbagai jenis pesawat yang dioperasikan TNI AU saat ini ditampilkan selama HUT TNI AU ke-71, selain simulasi bantuan tembakan udara (BTU), SAR tempur dan operasi terjun payung serta pengendalian pangkalan udara.

Skadron helikopter a.l. menampilkan helikopter NAS 332, SA330 dan EC-725 Cougar buatan bersama PT Dirgantara Indonesia dan Aerospatiale, Perancis dan grup Airbus. Heli AgustaWestland AW-101 yang pembeliannya menuai polemik tidak ditampilkan.

Indonesia sebenarnya juga memiliki heli buatan Rusia Mi-17 dan heli tempur Mi-35 Hind seperti yang dijatuhkan oleh Rambo dalam filmnya, tetapi dioperasikan oleh satuan penerbangan TNI AD (Penerbad).

Memiliki kekuatan udara yang handal sangat diperlukan RI, selain untuk memayungi wilayah seluas 5,2 juta meter persegi yang dua pertiganya lautan, dirangkai sekitar 17.000 pulau-pulau, juga untuk menimbulkan efek “deterrent” atau penggentar bagi musuh yang mencoba-coba melanggar kedaulatan negara.

 

Perlu anggaran besar

Namun demikian, membangun kekuatan udara yang sarat dengan teknologi mutakhir bukan persoalan sederhana karena diperlukan gelontoran dana sangat besar yang bisa menguras kocek APBN.

Dengan alokasi anggaran pertahanan sebesar Rp110 triliun pada 2016 untuk ketiga matra (AD, AL dan AU), ditambah lagi, lebih dari separuhnya habis untuk membayar gaji personil, mustahil untuk mewujudkan kekuatan udara yang mumpuni seketika.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku, program pengembangan kekuatan minimal TNI AU (Minimum Essential Forces – MEF), baru 40 persen dari Rencana Strategis MEF yang seharusnya pada April 2017 mencapai 50 persen.

Bahkan menurut versi laporan Jane’s, sekitar sepertiga dari pesawat-pesawat yang dioperasikan skadron-skadron  TNI AU seharusnya sudah dikandangkan atau (digrounded) karena  uzur ditelan usia, dan hanya seperlimanya di bawah usia 10 tahun.

Radar-radar yang digelar Satuan Radar TNI di berbagai wilayah, kabarnya akibat berusia tua dan jumlahnya terbatas, tidak bisa beroperasi penuh selama 24 jam dan tidak bisa memayungi seluruh wilayah nusantara.

Sejumlah musibah pada pesawat-pesawat TNI AU, baik yang berusia tua maupun yang baru dibeli beberapa waktu ini juga mengundang pertanyaan publik, apakah hal itu terjadi akibat cekaknya anggaran, rendahnya disiplin atau akumulasi keduanya).A

Yang menggembirakan, KSAU bertekad untuk mewujudkan “Zero Accident”  di jajaran TNI AU dan memberantas segala bentuk praktek korupsi .

Sejak 2015 tercatat musibah pesawat Hercules C-130 di Medan (30 Juli  ‘15) dengan 122 korban tewas dan di Wamena (18 Dec. ‘16) dengan 13 korban tewas , dua pesawat aerobatik KT-1B Wong Bee di Langkawi, Malaysia pada 15 Maret ‘15 (pilot kedua pesawat selamat) , pesawat Golden Eagle T50i di Yogyakarta ( 20 Dec. ‘16) pilot tewas dan pesawat kontra gerilya Super Tucano di tengah kota Malang (10 Feb. 2016), pilot dan kopilot tewas.

Di tengah cekaknya anggaran, masih segar dalam ingatan publik, dana proyek hibah pengadaan 24 pesawat F16D Blok 52 dari AS  ditilep sebanyak 12, 4 juta dollar AS  (sekitar Rp136 milyar) oleh perwira tinggi TNI AD Brigjen Teddy Hernayadi yang divonis hukuman bui seumur hidup.

Transparansi mengenai hasil penyelidikan terhadap musibah di lingkungan militer termasuk TNI AU juga perlu dilakukan guna mencegah kejadian sama tidak terulang kembali.

Rakyat pasti mendukung pembenahan di lingkungan TNI AU demi terciptanya angkatan udara yang disegani lawan maupun kawan, serta mampu melindungi segenap tumpah darah Indonesia sesuai lambang TNI AU, “Swa Bhuana Paksa” atau “Siap Melindungi Tanah Air”

Dirgahayu TNI pada HUT-nya yang ke-71!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement