KAPOLDA Metro Jaya M. Iriawan boleh merasa lega, karena sidang kasus Ahok kemarin pada akhirnya ditunda juga. Tapi jangan salah, bukan karena Pengadilan tunduk akan imbauan Kapolda Metro Jaya, melainkan Jaksa belum siap dengan berkas tuntutannya. Namun demikian itu sangat menguntungkan. Publik tak perlu cemas akan potensi rusuh, sedangkan kas Mabes Polri juga tak harus babak belur demi pengamanan demo seri entah ke berapa.
Menunda tak selalu negatif, bisa juga menjadi sangat bijaksana. Tapi dalam urusan hukum, bisa dimaknai sebuah intervensi penguasa. Padahal dari kacamata pemerintah, bisa saja itu sekedar antisipasi, menjaga jangan sampai terjadi hil-hil yang mustahal. Sebab bilamana benar-benar terjadi hil yang mustahal itu, ongkos politiknya menjadi sangat mahal. Kas Mabes Polri sudah terkuras berpuluh-puluh miliar, hanya untuk membiayai demo jangan sampai liar.
Terlepas dari urusan politik, menunda itu adalah bagian dari sikap yang sangat berhati-hati. Sebaliknya mempercepat, gambaran dari sikap yang sangat tergesa-gesa atau grusa-grusu. Padahal kata hadits Nabi, terburu-buru adalah merupakan perbuatan setan. “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR: Abu Ya’la).
Jika menengok sejarah berdirinya republik, Prokalamasi 17 Agustus 1945 adalah produk kesabaran Bung Karno – Bung Hatta menentukan hari H. Sebab maunya kalangan pemuda “Menteng 31” waktu itu, termasuk Sukarni – Khairul Saleh, begitu Jepang takluk pada Sekutu, hari itu juga proklamasi dicanangkan. Bung Karno dipaksa-paksa sampai “diculik” segala dibawa ke Rengasdengklok (Krawang). Tapi Bung Karno bersikap tegas. “Silakan potong leher saya jika kalian memaksakan kehendak,” kata Bung Karno setengah marah. Mereka menurut, dan proklamasi tetap sesuai jadwal, 17 Agustus 1945.
Dalam urusan haji atau umrah, menunda haid bagi seorang wanita juga sangat diperlukan. Sebab sayang kan, sudah mengeluarkan tenaga dan biaya tidak sedikit ke Tanah Suci, tapi tak bisa menjalankan prosesi haji/umrah sebagaimana mustinya. Maka cara paling efektip adalah menunda haid itu dengan suntikan Amenore atau minum Primolut. Dengan kiat semacam itu, niscaya siklus haid antara 21-35 hari untuk sementara bisa dihindari, dan ibadah di Tanah Suci tidak terganggu.
Menunda kehamilan adalah bagian dari program KB. Banyak kelurga muda yang melakukan. Soalnya, enaknya mau tapi anaknya,……… nanti dulu! Mereka belum siap hamil; bisa karena ekonomi tidak mendukung, bisa pula karena masih ingin mengembangkan karier. Mereka ini memang para wanita pekerja, yang tidak mau jadi istri sekedar mamah (makan) karo mlumah (melayani suami di ranjang). Kenapa tidak menolak saja ajakan suami? Itu dosa, karena ada hadits yang mengatakan: barang siapa menolak ajakan suami, akan dikutuk malaikat hingga pagi hari.
Banyak cara melakukan KB, bisa dengan sistem kalender, coitus interuptus, minum pil, atau sarung pengaman. Apa itu sarung pengaman? Apakah sarung cap Gajah Selonjor atau Dewi Amor? Ya bukanlah, itu sarung dari bahan lateks yang sangat tipis, yang bentuknya mirip balon. Maka bagi keluarga yang ceroboh, kondom mantan ini sering dibuang seenaknya, sehingga dibuat plembungan oleh anak-anak.
Ada juga penundaan yang dimaknai sebagai tahapan menuju sukses. Motivator Mario Teguh sering mengatakan di TV, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Tentu saja ini berlaku bagi manusia yang berkarakter pantang menyerah. Tapi bagi mereka yang bernyali kecil, sekali gagal ya sudah. Cukup nrima ing pandum (pasrah pada takdir).
Paling menjengkelkan adalah penundaan di dunia penerbangan. Penumpang cap apapun akan marah jika terkena delay. Maskapai Lion Air sering melakukan ini, dengan alasan gangguan pesawat atau kekurangan pilot. Biarpun acara jadi kaco, penumpang harus bersabar. Sebab orang sabar itu memang kekasih Tuhan. (Cantrik Metaram)





