
ANGKATAN Udara AS kembali menjatuhkan bom di markas besar pasukan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Afganistan menyusul serangan rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara rezim Bashar al-Assad di Shyairat, Suriah (6/4).
Mengenai serangan ke Suriah, Presiden AS Donald Trump beralasan, penggunaan senjata kimia (senyawa sarin) oleh pasukan al-Assad ke wilayah Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib (4/4) sudah kelewatan, mengakibatkan 86 korban tewas, puluhan di antaranya anak-anak dan perempuan.
Aksi pun diambil. Dua kapal fregat AL AS yang lego di lepas pantai perairan Mediterania meluncurkan 59 rudal Tomahawk, melumpuhkan markas, depot logistik serta sembilan pesawat tempur AU Suriah (Sukhoi SU-22, SU-25 dan MiG-23) di pangkalan udara Shayrat yang dicurigai digunakan untuk menjatuhkan bom-bom zat kimia.
Aksi “cowboy” Trump berikutnya dilakukan AS dengan menjatuhkan bom jumbo GBU-43B ke kompleks pangkalan dan markas utama pasukan NIIS di Distrik Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan (13/4).
GBU-43B, bom seberat 9,8 ton dan panjang 9,1 meter buatan McAleste Army Amunitio Plant. AS.yang dirancang khusus untuk menghancurkan bidang permukaan luas, sistem perlindungan di bawah permukaan tanah (goa atau terowongan) dan menghasilkan daya kejut.
Bom konvensional (tidak berhulu ledak nuklir) terberat yang pernah diproduksi oleh McAleste Army Amunition Plant AS itu untuk pertama kali digunakan dalam perang sesungguhnya, namun berbeda dengan bom-bom sejenisnya, GBU-43B yang dijatuhkan dari pesawat angkut MC-130 Hercules (varian khusus) dituntun menuju sasaran melalui satelit (GPS).
Bom GBU yang dikenal sebagai bahan peledak masif permukaan (Massive Ordnance Air Blast – MOAB), saking besarnya, diplesetkan menjadi Mother of All Boms) atau biang segala bom.
Reaksi internasional pun beragam merespons kiprah agresif yang diambil AS di bawah kepemimpinan Trump melawan musuh-musuhnya.
Ada yang mempertanyakan konsistensi sikap Trump, karena saat kampanye pilpres pada Pemilu AS lalu, ia menyatakan tidak ingin dicap sebagai presiden yang mengintervensi persoalan negara lain.
Ada juga yang menilai, serangan yang dilancarkan AS di Suriah dan Afganistan bisa dijadikan pertanda, Trump akan bertindak lebih tegas terhadap musuh-musuh AS dan menghadapi persoalan dunia ketimbang pendahulunya, Barrack Obama.
Reaksi dunia pun beragam, termasuk juga cara menilainya, bisa dianggap subyektif atau obyektif, tergantung dari sudut pandang dan posisi masing-masing.
Sejumlah negara terutama mitra AS di daratan Eropa mendukung langkah Trump, sebaliknya Rusia dan Iran yang berada di belakang rezim al-Assad menentangnya dan menilainya tindakan Trump melanggar hukum internasional, lagipula belum bisa dipastikan, kubu di Suriah mana yang menggunakan senjata kimia.
RI sebagai negara yang bebas dan pro-aktif mewujudkan perdamaian, bersikap menentang penggunaan zat kimia dengan alasan apa pun, namun juga menyayangkan aksi sepihak AS atas Suriah dan mendorong solusi damai diantara para pihak bertikai.
Sejauh ini belum ada reaksi terkait pemboman yang dilakukan AS di markas NIIS di Afganistan, kemungkinan karena kelompok garis keras itu telah terstigma sebagai musuh bersama dunia.
Langkah yang diambil Trump di Afganistan dan Suriah mungkin saja bagian dari upayanya mengukur reaksi dunia (test the water) guna mengambil ancang-ancang untuk menyerang pusat-pusat peluncuran uji coba rudal Korut. (AFP/Reuters/NS)
A
V




