Begawan Menyempurnakan Pengabdian

Menjadi begawan  tidak harus selalu berarti mundur total dari kehidupan masyarakat  (public life). Bermukim di tempat sepi tidak berarti melepaskan diri dari kewajiban untuk mengajak orang berbuat kebaikan dan memerangi kebathilan (amar makruf nahi munkar).

Justru, di tempat sunyi orang bisa berpikir lebih jernih. Di tempat hening, pikiran menjadi lebih bening. Di tempat yang tidak bising, orang bisa mendengar lebih jelas. Di tempat yang jauh, orang merasa lebih dekat.

Dengan diam, orang dapat berbicara lebih banyak. Dengan menutup mata, orang dapat melihat lebih banyak. Dengan menutup telinga, orang dapat mendengar lebih banyak, demikian menurut buku “The  Calm Techniques”. Dalam laku spiritual Jawa, hal itu disebut “topo mbisu, topo micek, topo mbudeg”. Artinya, berpuasa membisu, membuta dan menuli.

Tentu, yang berbicara, melihat dan mendengar adalah batin. Itulah gunanya kontemplasi, refleksi,  meditasi, semedi dan tafakur. Dalam tradisi pondok pesantren, jalan spiritual memeriksa hati dan merenungi amal yang telah dilakukan itu dikenal sebagai “muraqabah” dan “muhasabah”.

Pertapaan seorang begawan jaman dulu serupa dengan pondok pesantren kini. Yang juga sama fungsinya dengan itu adalah padepokan perguruan pencak silat, yang mengajarkan  ilmu “kanuragan” (bela diri) dan ilmu “kansunyatan” (spiritualitas). Di pertapaan, pondok pesantren dan padepokan pencak silat, cantrik, santri, dan siswa digembleng dalam kedua ilmu.

Dalam tradisi gerejani dikenal kegiatan “retret” (dari kata bahasa Inggris “retreat”), pergi ke tempat sunyi untuk merenung, membersihkan hati dan menimba semangat.  Biasanya dengan mengunjungi tempat suci yang dibangun sebagai bagian dari tempat peristirahatan di daerah pegunungan atau tempat terpencil. Di tempat itu terdapat kapel atau gereja kecil dan goa dengan nama tokoh-tokoh yang dianggap suci, seperti Goa Maria.

Sejumlah tokoh pegiat reformasi, ketika merasa sudah “mentok”, menyatakan ingin “naik gunung”. Alasannya, suara dan upaya mereka tidak didengar lagi atau tidak mendapat  dukungan seperti diharapkan. Sebaliknya, dikenal istilah “turun gunung”. Yakni, ketika tokoh  yang sudah “mbegawan” merasa terpanggil lagi untuk turun, ikut campur tangan lagi, terjun ke gelanggang juang.

Salah satu contoh begawan modern adalah Mas Sholahuddin Wahid, yang kini memimpin pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Adik Gus Dur, yang insinyur ini semula adalah aktivis sosial kemanusiaan, dan pernah menjadi cawapres, berpasangan dengan capres Jendral Wiranto. Di tengah kesibukannya memimpin pesantren warisan keluarga, Mas Sholah masih menyempatkan diri memberi komentar tentang persoalan mutakhir tanah air negara lewat  artikelnya di media massa.

Buya Syafii Maarif, mantan Ketum Muhammadiyah, adalah contoh begawan modern yang lain. Pofesor ilmu sejarah ini dalam usianya yang sudah 80 tahun masih giat menulis, berkomentar tentang berbagai isu krusial. Ia pun sering keluar dari “pertapaannya” di Yogyakarta  untuk berceramah di seantero tanah air dan luar negeri. Karena kepeduliannya akan nasib bangsa dan negara, Buya digelari sebagai “Bapak Bangsa”.

Prof. Dr. Von Magnis Suseno, padri Katholik asal Jerman yang menjadi WNI,  termasuk dalam kelompok begawan modern Indonesia. Para begawan ini berani mengkritik pemerintah demi kepentingan bangsa Indonesia dan kemanusiaan.

Mereka menyempurnakan pengabdian tanpa takut risiko, karena sudah sepi pamrih. Persis seperti wejangan Eyang RM Sosrokartono, tokoh spiritual dan kakak Ibu RA Kartini,: “Sepi pamrih, tebih ajrih”. Artinya, sepi pamrih, jauh rasa takut.

Advertisement