SEMARANG – Nela Nurvitasari (26), salah satu pengemudi ojek online di Semarang menuturkan kisahnya selama menjadi pengemudi ojek online setelah enam bulan dilaluinya. Banyak hal menarik yang ia dapatkan dari caranya mencari penghasilan tambahan sebagai mahasiswi.
Ia yang masih duduk di bangku kuliah semester delapan suatu universitas di Semarang mengaku tertarik menjadi pengojek “online” karena kawan perempuannya banyak yang sudah bergabung.
Setiap hari rata-rata ia mendapatkan penghasilan Rp100.000, belum termasuk dengan poin jika mencapai target, bisa sampai Rp200.000.
Berbagi pengalamannya kepada Antara, Kamis (20/4/2017), ia mengisahkan pernah ada konsumen laki-laki batal order karena merasa tidak enak dibonceng perempuan, dan pernah pula order dibatalkan karena istri calon penumpang tidak mengizinkan suaminya dibonceng perempuan.
“Ya, saya sih enggak masalah. Nolaknya juga sopan. Lucunya, gara-gara perasaan tidak enak dari penumpang jika dibonceng perempuan, pernah pula malah saya yang diboncengin,” katanya.
Selain Nela, Dekawati Kusuma Dewi (21) juga memilih jadi pengemudi ojek untuk membantu orang tua membayar biaya kuliah.
Kebetulan, ibunya juga pengemudi online jadi ia tahu bagaimana hasil yang didapatkan dan akhirnya tertarik.
Mahasiswi psikologi ini mengaku dalam sehari, bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp100 ribu dari mengojek “online”. “Kalau (rider, red.) cewek, biasanya banyak memilih melayani pesan makanan, tetapi sering juga ride, yakni penumpang. Yang penting dibikin asyik aja,” pungkasnya.





