Setiap Jam, Ada Satu Kematian di Indonesia Disebabkan Kanker Serviks

Ilustrasi

BOGOR – Kanker serviks merupakan penyakit mematikan yang membunuh perempuan di dunia paling banyak setelah kanker payudara. Setiap dua menit, seorang perempuan di dunia meninggal karena kanker serviks.

Di tingkat Asia Pasifik, seorang perempuan meninggal setiap tujuh menit. Di Indonesia, tercatat terdapat satu kematian setiap jam karena penyakit itu.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Yessi Desputri mengatakan di kabupaten Bogor sendiri,  pengidap kanker serviks belum terdeteksi secara optimal.

Pengecekannya baru bisa dilakukan di beberapa tempat oleh petugas berkemampuan khusus yang jumlahnya minim. Upaya pengobatannya juga kerap terlambat akibat kesadaran masyarakat memeriksakan diri masih rendah.

Menurutnya, sebagian besar penderita kanker serviks baru menyadari saat kondisinya sudah parah. “Di Kabupaten Bogor, data kami untuk penderita kanker serviks terus terang belum valid. Kami tidak mendapatkan data dari rumah sakit karena pasien sudah lanjut ke rumah sakit besar di luar kota, sampai meninggal, dan tak tercatat oleh kami,” kata Yessi di Puskesmas Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (21/4/2017).

Akibat keterlambatan pendeteksian, Yessy mengakui, tenaga medis dan sarana yang tersedia di rumah sakit daerahnya tidak mampu menangani penyakit mereka. Pasien yang bersangkutan akhirnya segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di luar Kabupaten Bogor. Dengan kondisi pendataan seperti itu, Dinkes setempat hanya bisa mencatat jumlah penderita kanker serviks secara akumulatif hingga 2016 sebanyak 60 orang.

“Jumlah penderita kanker serviks di Kabupaten Bogor sudah mulai berkurang. Pada 2016 lalu, kasus baru yang tercatat sebanyak 11 orang. Tahun 2014 kita ketemunya 30-an kasus,” kata Yessy.

Untuk mencegahnya, masyarakat dapat memeriksakan diri di Puskesmas tersebut kepada petugas khusus yang telah diberikan pelatihan.

Yessi meyakinkan pemeriksaan penyakit tersebut tidak bisa sembarangan meskipun secara teknis dianggap sederhana dan bisa langsung diketahui hasilnya. Pemeriksaan serupa juga bisa dilakukan di klinik-klinik khusus yang berjumlah 12 tempat, ditambah satu tempat praktik dokter dan dua laboratorium swasta di daerahnya.

“Target kami 30 persen dari jumlah penduduk perempuan usia 30 sampai 50 tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan untuk Kabupaten Bogor, datanya sekitar 800 ribu orang jumlahnya,” kata Yessi.  Dari target 2017 itu, perempuan yang sudah diperiksa baru sekitar 1.500 orang.

Yessi menjelaskan, cara paling sederhana untuk mendeteksi keberadaan kanker serviks di tubuh perempuan dengan cara Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Pemeriksaan itu bisa dilakukan di tempat-tempat yang telah mendapat rekomendasi Dinkes. Kegiatan serupa juga dilakukan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja berkerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Puskesmas Cibinong, Jumat.

“Layanan pemeriksaan IVA ini dijamin BPJS Kesehatan. Jika setelah diperiksa peserta memerlukan penanganan lebih lanjut, akan dirujuk sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” kata Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Cibinong, Parasamya Dewi CiptaParasamya, dikutip PR.

Advertisement