Hidup Sebatang Kara, Abah Tarsa Tanam Singkong untuk Makanan Sehari-hari

Abah Tarsa/ Merdeka.com

BANDUNG –  Abah Tarsa, seorang kakek berusia 82 tahun merupakan salah satu potret kemiskinan, yang tinggal di sebuah gubuk berukuran 2×3 meter tanpa adanya fasilitas kamar mandi.

Di dalam gubuknya hanya ada kasur untuk tempatnya beristirahat dan lemari tua. Ruangannya sempit dan pengap, tanpa ventilasi. Jika ingin buang air kecil dan BAB, Abah harus menumpang di tempat orang lain.

Ia mengaku sudah dua tahun tinggal  gubuknya yang berada tepat di belakang SMP 49 Jalan Antapani, dan ia pun hidup sendirian, karena anak dan istrinya sudah meninggal.

Dalam kesendiriannya ia juga harus melawan penyakitnya yang membuat kepalanya miring tak bisa tegak lurus. Ia mengaku tidak mengetahui penyakit  yang sedang diidapnya tersebut. Kepalanya terus miring ke sebalah kiri dan sulit untuk digerakan. Sehingga untuk berbicara pun dalam posisi miring.

“Pertamanya leher abah kesemutan. Dikirain ya biasa aja ga ada apa-apa. Tapi tiba-tiba kepala abah miring ke kiri. Terus miring kayak sekarang,” katanya.

Kondisi ekonomi yang cukup sulit membuatnya hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini. Tetapi dalam kondisinya yang seperti itu, ia masih bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari
Selain memulung,  Abah Tarsa pun rupanya gemar berkebun. Dia menanam singkong di lahan di depan gubuknya. Hasil dari dia berkebun dikonsumsi untuk makanan sehari hari.

“Lumayan hasilna kanggo tuang (lumayan hasilnya untuk makan). Embung ngemis ka batur mah (enggak mau ngemis ke orang). Tapi kalau ada yang kasih saya makan atau apa saya terima,” ungkapnya, mengutip merdeka.com, Sabtu (22/4/2017).

Advertisement