
MATA dunia pekan ini tertuju pada perang kata-kata, saling gertak dan saling ancam antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang dicemaskan berujung pada Perang Korea seperti terjadi pada Juni 1950 – Juli 1953.
Dari pihak Korut, pernyataan-pernyatan perang atau permusuhan terhadap musuh-musuhnya; AS dan Korea Selatan yang juga tetangga dan bangsa serumpun serta Jepang sebenarnya sudah merupakan berita rutin.
Dalam rangkaian HUT ke-105 tokoh pendiri Korut Kim Il Sung, ancaman untuk membumihanguskan daratan Amerika diulas di harian pemerintah, Rodong Sinmun dan ditayangkan pada program video, diselang-selingi tampilan tari-tarian, nyanyian dan seni budaya negeri itu.
Di ujung segmen tayangan video, digambarkan negeri Paman Sam itu luluh-lantak dihujani rudal-rudal nuklir, termasuk bendera “the stars and stripes” yang terbakar sebagai simbolisasi kehancuran negara musuh bebuyutan Korut itu.
Dalam jumpa pers yang jarang dilakukan (20/4), Dubes Republik Demokratis Rakyat Korea atau Korut untuk RI An Kwang Il berpesan, negaranya berhak meningkatkan kemampuan pertahanannya, termasuk rudal dan senjata nuklir terhadap serangan dari AS dan sekutu-sekutunya yakni Korsel dan Jepang.
“Kami siap dan tidak gentar menghadapi serangan dari mana pun dan sanksi apa pun, “ tandasnya.
Kwang Il juga menegaskan, sanksi ekonomi yang dijatuhkan terhadap negaranya adalah bentuk pelanggaran HAM, walau hal itu tidak “ngaruh” bagi perekonomian Korut.
Propaganda perang Korut dibalas oleh Menhan AS Jim Mattis yang meminta rakyatnya dan dunia mengabaikan ancaman Korut , karena hal itu sudah digembar-gemborkan berulang kali, namun tidak pernah betul-betul terbukti.
Wapres AS Mike Pence saat apel siaga pasukan AS di atas kapal induk USS Ronald Reagan di pangkalan Laut Yokosuka, Jepang (19/4) menegaskan, AS akan mengalahkan Korut dengan serangan balasan yang dahsyat dan efektif.
Trump ingatkan Korut
Namun aba-aba kemungkinan pecahnya perang semakin menguat setelah Presiden AS Donald Trump juga mengingatkan Korut bahwa kesabaran AS sudah habis, dan jika Korut tetap melakukan uji coba rudal dan nuklir, AS tidak ragu-ragu menyerang.
Hawa perang semakin terasa, setelah AS meluncurkan 59 rudal jelajah Tomhawak untuk menghancurkan pangkalan udara pemerintah Suriah di Shayrat (6/4) yang dua hari sebelumnya (4/4) digunakan pesawat-pesawat tempur rezim Bashar al-Assad menjatuhkan bom kimia di Khan Sheikhoun, Idlib yang menewaskan 86 warga sipil.
Aksi “cowboy” Trump berikutnya dilakukan AS dengan menjatuhkan bom jumbo atau biang segala bom (mother of all bombs –MOA ) GBU-43B ke kompleks pangkalan dan markas utama pasukan NIIS di Distrik Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan (13/4).
Mengingat tidak begitu kerasnya reaksi dunia terutama dari negara-negara yang berseberangan dengan AS seperti Rusia dan China atas kedua aksi AS itu, mungkin saja AS akan melakukan tindakan serupa terhadap Korut.
Kemungkinan AS juga akan melancarkan serangan tangkal (preemptive strike) dengan rudal-rudal jelajah Tomahawk-nya ke pusat-pusat peluncuran rudal, fasilitas nuklir, pusat komando militer, dan mengandalkan kekuatan udaranya melumpuhkan radar dan sistem pertahanan udara serta “jantung” militer Korut lainnya.
Suasana yang berkembang akhir-akhir ini tidak sebatas perang kata-kata, tetapi juga diikuti gerakan-gerakan dan persiapan militer.
Dua kapal induk AS, USS Carl Vinson dan USS Ronald Reagan masing-masing dengan sekitar 60 pesawat tempur dilaporkan sudah merapat ke Semenanjung Korea.
Kekuatan AS di Korsel
Pasukan AS berkekuatan 47.000 personil yang berpangkalan di Jepang dan 28.500 personil di Korsel didukung tank-tank tempur utama (MBT) M1A2 Abrams, dan kendaraan artileri berat dan multi peluncur rudal dalam keadaan siap siaga. Ratusan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet dan F-22 Raptor juga berada di pangkalan AS di kedua negara.
Guna memayungi Korsel dari serangan rudal, AS telah menggelar sistem rudal anti rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang berfungsi menjatuhkan rudal lawan dengan menabraknya dan sistem anti rudal Patriot yang terbukti mampu menangkal rudal-rudal Scud Irak pada Perang Teluk lalu.
Jepang kabarnya juga akan ikut bergabung dengan kekuatan AS dan Korsel, walau hal itu diragukan karena adanya pembatasan kegiatan militer di luar negeri berdasarkan konstitusinya.
Korsel sendiri, berkat kemajuan ekonominya sebagai salah satu “macan Asia”, berkekuatan sekitar setengah juta tentara, didukung peralatan militer canggih berupa pesawat-pesawat tempur, tank-tank, kapal perang, baik buatan AS maupun produk lokal.
Sebaliknya, negara sobat Korut, China dilaporkan telah menggeser 150.000 pasukannya ke dekat perbatasan dengan Korut , sementara kegiatan militer Rusia meningkat di perbatasan Korut dengan Korsel walaupun katanya cuma aktivitas rutin.
Pada Perang Korea lalu, China ikut terjun langsung dan kehilangan 145.000 anggota pasukannya, sedangkan Rusia memasok peralatan militer bagi Korut.
Korut sendiri, walau dengan keterbatasan ekonomi akibat sebagian anggarannya digunakan untuk uji coba rudal dan pengembangan senjata nuklir, dengan pendapatan per kapita penduduknya sekitar 854 dolar AS (bandingkan dengan Korsel 27.000 dolar AS lebih) memiliki kekuatan dan mesin perang sangat besar.
Korut dengan 1,2 juta tentara
Beranggotakan 1,2 juta militer aktif, belum termasuk tujuh juta personil cadangan, tentara rakyat Korut didukung ribuan tank, artileri dan ratusan pesawat tempur (MiG dan Sukhoi) ex-Uni Soviet atau sekarang Rusia.
Selain gelombang manusia, jika pecah perang, Korut mengandalkan rudal-rudal balistik yang dikembangkannya sendiri seperti Musudan (jarak jangkau 4-ribu Km), Nodong (1.300 Km), Taepodong (sampai 8.000 km) dan rudal baru Pukgukson II berbahan zat padat yang masih diuji coba.
Secara teoritis, jika gagal dihadang sistem anti rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defence) atau Patriot, rudal-rudal tersebut dapat meluluhlantakkan Seoul (hanya 56 Km dari garis demarkasi militer yang memisahkan Korsel dan Korut) atau Tokyo (1.284 Km) dan sebagian daratan AS.
Paradigma perang, tentu sudah banyak berubah akibat perkembangan teknologi pasca Perang Korea sekitar enam dekade lalu, namun jatuhnya korban manusia, tetap saja tidak bisa terelakkan.
AS saja kehilangan sekitar 52.000 anggota pasukannya, sedangkan Korsel, Korut dan China mengorbankan ratusan ribu nyawa tentaranya, belum termasuk yang luka-luka dan korban warga sipil kedua Korea.
Korban manusia akibat perang kadang-kadang menjadi tumbal demi terwujudnya perdamaian atau kehidupan lebih baik, namun itu tentu merupakan upaya terakhir jika semua cara gagal mencapai solusi.
Jika masih ada peluang untuk berdamai, kenapa tidak? (AFP/AP/Reuters/NS)




