Referendum Perkokoh Kekuasaan Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (16/4) (kompas intl')

HASIL paket referendum amandemen konstitusi Turki dari sistem parlementer ke presidensil diperkirakan akan memuluskan perpanjangan masa kepemimpinan presiden petahana, Recep Tayyip Erdogan sampai 2029.

Referendum bagi draft 18 pasal amandemen UUD yang digelar pada Minggu (16/4) menghasilkan kemenangan suara tipis yakni 51,4 persen suara setuju (ya) dan 48,6 persen yang menentangnya (tidak). Selanjutnya, konstitusi baru akan diberlakukan pasca pemilu parlemen dan presiden yang digelar tahun ini.

Amandemen konstitusi didukung oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Presiden Erdogan yang memiliki 317 kursi di parlemen dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP) dengan 40 kursi.

Sementara kubu anti amandemen terdiri dari Partai Rakyat Republik (CHP) dengan 134 kursi serta Partai Rakyat Demokratik (HDP) pro kelompok minoritas Kurdi dengan 59 kursi.

Erdogan dalam kampanye selalu menyebutkan, amandemen UUD adalah suatu keniscayaan guna memulihkan kembali  kondisi perekonomian dan keamanan Turki pasca kudeta militer yang gagal pada Juli 2016 dan terjadinya aksi-aksi teror yang menelan koban jiwa beberapa waktu lalu.

Namun di pihak lain di mata lawan-lawan politiknya, tujuan di balik amandemen UUD yang dilakukan Erdogan dan kubu-nya semata-mata sebagai upaya untuk melanggengkan kekuasaannya.

Buktinya, UUD atau konstitusi baru akan memperkuat kekuasaan eksekutif Erdogan karena dengan dihapuskanya jabatan perdana menteri, ia memiliki wewenang penuh mengangkat wakil presiden dan para anggota kabinet dan  jaksa serta menentukan anggaran, bahkan mengelurakan dekrit presiden.

Erdogan juga bisa ikut dua kali pemilu lagi sehingga ia berpeluang besar untuk melanggengkan kekuasaannya untuk dua periode lima tahun mendatang (sampai 2029).

Walau kubu Erdogan bersama AKP masih menang tipis di referendum, benih-benih perlawanan mulai muncul di kota-kota berpenduduk kelas menengah seperti di Antalya, Istanbul, Izmir, bahkan di ibukota, Ankara yang semula menjadi basis pendukung  keduanya.

Dari hasil perolehan suara referendum, juga tampak jelas merosotnya dukungan rakyat. Jika pada pada pemilu parlemen November lalu, AKP dan MHP meraup 61 persen suara, pada referendum amandemen UUD hanya mampu mengumpulkan   51,4 persen .

Turki yang  secara geografisd terletak di dua benua, Asia dan Eropa, melancarkan modernisasi dari negara kekhalifahan menjadi negara bangsa (nation state) melalui perombakan sistem pendidikan, sosial dan kultural yang dilakukan oleh bapak pendiri bangsa sekaligus prersiden pertama Turki Mustafa Kemal Ataturk (l881 – 1938).

Ataturk mengakhiri kejayaan kekhalifahan Ustmaniyah selama lima abad di Turki saat ia dan tentaranya berhasil merebut kota Istanbul dan melucuti pengusasa terakhir rezim tersebut , Khalifah A Hamid II pada 1909 dan menjadikannya sebagai pendiri dan presiden pertama Turki modern yang menganut paham sekuler.

Ke depannya, entah apalagi yang akan dilakukan Erdogan untuk mengatrol tingkat kepuasan pada kinerja dan elektabilitasnya yang di mata  rakyat serta pendukungnya  cenderung  mulai memudar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Turki, negara berpenduduk …. secara geografi terlatak di dua benua, Asia dan Eropa, melancarkan modernisasi dari negara kesultanan menjadi negara bangsa (nation state) melalui perombakan sistem pendidkan, sosial dan kultural .

 

 

 

 

 

Advertisement