Di antara ribuan tenda mungil yang memenuhi padang pasir Kahda, terdapat deretan warung-warung kecil nan sederhana. Kios itu sangat ringkih, karena dirangkai dengan dahan pohon yang ukurannya kecil. Sama seperti tenda tempat tinggal mereka.
Di “etalasenya” terpajang aneka jenis barang, mulai dari makanan ringan hingga kebutuhan dasar seperti sabun, sampo, teh, susu bubuk, hingga mie kering. Ragamnya cukup banyak, meski kuantitasnya terbatas.
Saat kami mengunjungi kamp di Kahda awal April lalu, salah satu penjual bernama Hawa (30) mengaku baru berjualan beberapa hari. Ia mengaku melihat peluang ekonomi di kamp, karena para pengungsi juga membutuhkan barang-barang itu. Ia pun pun berinisiatif membuka warung. “Daripada mereka pergi ke pasar atau toko di luar kamp,” selorohnya.
Hawa berasal dari desa Diinsoor yang jaraknya 250 kilometer dari Mogadishu. Karena desanya dilanda kekeringan, dan ia tidak bisa mendapatkan makanan serta air, Hawa dan keluarga pun mengungsi. Ia mencari peruntungan.
Di pengungsian, tak banyak yang bisa mereka kerjakan selain mengasuh 5 anaknya yang ia bawa serta. Merasa jenuh dengan keadaan, Hawa kemudian berinisiatif membuka usaha kecil-kecilan. Tapi ia bingung karena tak punya modal. Beruntung, ada kerabat yang mau meminjaminya modal.
Sistem bagi hasil dan konsinasi antara Hawa dengan kerabatnya pun disepakati. Si pemberi modal membelikan barang-barang dagangan di pasar. Hawa pun kemudian menjualnya di pengungsian. “Nanti kami dapat keuntungannya,” jelas Hawa.
Karena jumlah barangnya masih sangat terbatas, omset yang diraihnya pun masih sangat kecil. Dalam sehari, ia hanya biasa mendapatkan omset setara dengan US$ 2,5. Mata uang dollar AS memang menjadi salah satu alat pembayaran di Somalia karena mata uang Shilling Somali tidak stabil. Mata uang ini juga kerap mengalami redenominasi.
Selain Hawa, muncul juga penjual-penjual lainnya. Barang jualan mereka pun tak jauh berbeda. Bahkan di sudut kamp lainnya terdapat pengungsi yang membuka layanan jahit. Ia membawa mesin jahit langsung dari rumahnya. Selain karena takut hilang, juga untuk menambah aktivitas di pengungsian.
Hawa dan pengungsi-pengungsi lainnya belum tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Selama hujan belum turun, ia belum bisa kembali ke kampung halaman. Sementara bagi pengungsi lainnya, ancaman keamanan dan teror Al Shabab yang kerap menghantui membuat mereka berpikir kembali jika harus kembali.
Minim Kegiatan Produktif
Ribuan pengungsi yang mendiami kamp di Distrik Kahda tidak banyak yang memiliki kegiatan produktif. Mereka hanya duduk-duduk di depan tenda, berkumpul, atau bercengkerama dengan sesama. Lembaga-lembaga yang menyalurkan bantuan di kamp ini pun lebih banyak dalam bentuk barang, makanan, atau air. Jarang sekali, atau bahkan tidak ada yang menggulirkan program ekonomi produktif di kamp.
Data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (UN-OCHA), ada 315 lembaga dan organisai masyarakat sipil yang menjalankan program di Somalia. Mereka menjalankan sekitar 499 program/aktivitas. Semua program itu terbagi menjadi 7 klaster bentuk bantuan, yaitu pendidikan, pangan, kesehatan, nutrisi, perlindungan, penampungan (shelter), serta air dan sanitasi.
Dari 7 klaster program itu, pendidikan memiliki porsi terkecil, yakni hanya 19 program. Diikuti shelter 31, dan Nutrisi (64). Sementara pangan menempati porsi terbesar, yakni 122 program, diikuti air dan sanitas (97), perlindungan (91), dan kesehatan (75).
Demikian halnya dengan program pendidikan. Di sekitar Kahda, kami hanya menemukan dua fasilitas pendidikan berupa bangunan sekolah semi permanen untuk anak-anak pengungsi. Tentu saja, fasilitas ini jauh dari kata cukup, mengingat ada ribuan anak yang mendiami kamp ini.
“Situasinya agak sulit, saat ini yang mereka butuhkan memang makanan dan air. Tapi bukan tidak mungkin, beberapa ada yang kami ikut sertakan dalam pelatihan menjahit dan keterampilan lainnya, tapi memang bukan di kamp pengungsian,” kata Nucman, manager program di Zamzam Foundation, lembaga kemanusiaan yang berbasis di Mogadishu.
Masa tinggal pengungsi di kamp tidak menentu, ada yang hanya 5-6 bulan, tapi ada juga yang tahunan. Mereka yang mengungsi karena alasan keamanan, yakni khawatir mendapat serangan Al Shabab atau kelompok bersenjata lainnya, sudah tinggal selama bertahun-tahun.
Untuk itu, perlu sekali intervensi-intervensi program yang bentuknya pengembangan masyarakat (community development) seperti ekonomi dan pendidikan. Dengan demikian, mereka bisa terhindar dari rasa jenuh dan bosan.
Namun demikian, masalah keamanan juga menjadi pertimbangan tersendiri. Mengadakan program-program produktif di kamp pengungsian yang dihuni puluhan ribu orang bukan tanpa risiko. Potensi rusuh dan kecemburuan sosial sangat tinggi manakala ada satu bagian yang mendapat bantuan, sementara yang lain tidak. “Kita harus sangat hati-hati di sana,” tukas Nucman.





