Bercurigalah Dengan Bunga

Beribu-ribu karangan bunga dikirim ke Balaikota, sebagai wujud simpati pada Ahok-Jarot.

BUNGA harum baunya, sedangkan bunga bank haram hukumnya. Tapi itu ternyata tak selalu pas. Sebab ada juga bunga yang berbau busuk. Sedangkan bunga bank, meski katanya haram ternyata bisnis perbankan berkembang terus. Paling celaka adalah, mengirim karangan bunga tanda ikut simpati, malah dicurigai sebagai pencintraan. Ini hanya bisa terjadi gara-gara Pilkada. Jelas itu pendapat yang bodoh, atau pendapat orang pintar tapi sudah dol attitude (sopan santun)-nya.

Secara umum bunga itu memang indah dan harum baunya. Karenanya kaum wanita cap apapun paling senang dengan bunga. Bahkan untuk memberi nama anak pun, banyak orang yang mengambil nama bunga, seperti: teratai, dahlia, melati, puspa. Yang menelan langsung nama “bunga” juga ada, misalnya: Bunga Surawijaya, wartawan majalah Tempo, atau artis masa kini: Bunga Citra Lestari (BCL). Nama yang indah, meski terkesan seperti sebuah real estate.

Di Jakarta, tepatnya di Kecamatan Jatinegara, ada nama kelurahan Rawabunga, yang berlokasi di sebelah selatan Stasiun Jatinegara. Ini berganti nama tahun 1980-an dari nama sebelumnya Rawabangke. Sebuah nama yang menyeramkan memang, karena konon lokasi itu dulu merupakan rawa yang menjadi arena pembuangan mayat korban kejahatan. Sejak itu nama kampung tersebut menjadi Rawabangke. Di jaman Orde Baru, ketika penduduk merasa risih dengan nama tersebut, Pemprov DKI lalu menggantinya dengan nama: Rawabunga, warga kampung itu pun hatinya berbunga-bunga.

Pelukis senang menuangkan bunga dalam kanvas, seniman musik juga gemar mengarang lagu yang judulnya seputar bunga. Maka kemudian ada lagu Bunga Seroja yang dinyanyikan Said Effendi (1960-an), Bunga Flamboyan Laili Dimyati (1968),  Bunga Sakura Titik Sandhora (1970), Sakura No Hana juga dinyanyikan Titik Sandhora (1968), Bunga Mawar Tety Kadi (1967). Bahkan sekitar tahun 1947 komponis Ismail Marzuki juga menciptakan lagu: Melati di tapal batas.

Jika Keluarga Cendana punya Taman Bunga di Cileungsi, Nederland dikenal sebagai Negeri Bunga Tulip. Katanya Belanda itu negara kecil, tapi ketika melihat ladang tanaman bunga tulip di sana, nun jauh mata memandang hanya terlihat hamparan tanaman bunga tulip. Bunga itu beraneka warna, ada kuning, merah jambu, dan merah menyala seperti jaket PDIP. Di sana, bunga tulip menjadi ajang bisnis yang menjanjikan.

Tapi di Indonesia dan negeri di mana saja, bunga uang lebih menarik. Baik yang berupa lembaga resmi namanya bank, atau yang liar biasa disebut rentenir. Ini bisnis yang sangat menjanjikan. Pemiliknya hanya diam ongkang-ongkang kaki, uangnya berkembang dengan sendirinya. Bahkan rentenir sungguh biadab, jika terjadi kemandegan cicilan (macet), uang itu akan bunga berbunga. Awalnya hanya Rp 1 juta, bisa saja menjadi seratus juta sepanjang peminjam belum bisa melunasinya.

Bunga uang yang dikelola bank, tak sekejam itu, karena bunga yang dikutip tak sebesar rentenir. Bunga bank paling-paling setahun berkisar 5-6 %, sedangkan rentenir sebulan saja bisa 20 %. Pinjam Rp 1 juta, dalam sebulan harus mengembalikan jadi Rp 1,2 juta atau ngrolasi kata orang Jawa. Maka Allah pun mengancam, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. “(Ali-Imran: 130)

Karenanya, banyak orang yang tidak mau bekerja di bank karena alasan ini. Yang tidak mengenakkan, setelah keluar dari bank dan berganti penampilan sehari-hari, dia mengatakan bahwa teman-temannya yang bekerja di bank itu kafir semua. Padahal mengkafir-kafirkan orang itu juga ada hukumnya sendiri.

Tapi paling menyakitkan adalah, gara-gara Pilkada DKI orang kirim karangan bunga bisa juga dicurigai. Ketika Ahok yang kalah Pilkada malah terima beribu-ribu kiriman karangan bunga tanda simpati, masih ada juga politisi Senayan yang bilang sebagai pencitraan murahan. Sosok yang ngomong memang pintar, tapi atittude-nya sudah dol! (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

 

 

Advertisement