Selama puluhan tahun Mursida Rambe mendedikasikan hidupnya untuk berjihad di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Ia tidak berniaga melainkan mesti bergumul dengan banyak pedagang kecil demi bisa membebaskan mereka dari para rentenir yang berkeliaran di pasar. Bagi Rambe kesuksesaan adalah ketika di depan matanya tidak ada lagi orang yang tak bisa makan akibat terbelit lintah darat.
Kepada SwaraCinta Rambe menuturkan impiannya tersebut mulai mendekati kenyataan ketika Dompet Dhuafa pada tahun 1994 menyelenggarakan pelatihan ekonomi syariah di Leuwiliang Bogor, Jawa Barat. Setelah itu Rambe direkomendasikan untuk magang di BPRS Margirezeki Baghagia selama 1 bulan.
Namun semakin banyaknya pedagang Pasar Beringharjo yang terbelit masalah dengan rentenir membuat Rambe tak bisa berdiam diri. Secara khusus Rambe melayangkan proposal dan mengajukan kepada Dompet Dhuafa dana sebesar Rp 3 juta, tetapi yang disetujui Rp 1 juta. Dari jumlah tersebut Rp 500 ribu diantaranya digunakan untuk membuat brosur, kartu nama dan sebagainya.
Setelah mendapat modal Rambe bersama dua rekannya, Nazny Yenny dan Ninawati secara bersama-sama mencari lokasi. Sempat tidak mendapatkan tempat dimana-mana akhirnya secara kebetulan Rambe bertemu dengan mantan gurunya semasa ia mengenyam pendidikan di Madrasah yang kini menjadi pengurus takmir Masjid Muttaqin, Beringharjo.
“Alhamdulilah beliau mempersilakan saya untuk membuka kantor Baitul Mal wa Tamwil (BMT) Beringharjo di Serambi Masjid Muttaqin. Semuanya kami rintis dengan terbatas, kami diberikan kursi dan meja ala kadarnya. Dari serambi masjid inilah kami memulai misi untuk mendampingi para pedagang kecil yang ada di Pasar Beringharjo,” Kenang Rambe.
Karena modal terbatas perangkat kerja pun terpaksa Rambe pinjam dari sana-sini termasuk mesin ketik yang Rambe pinjam dari teman kos. Sedangkan untuk keperluan operasional Rambe meminjam motor milik penjaga kamar mandi masjid.
Di awal-awal BMT berdiri, Rambe berhasil menggandeng 20 pedagang skala sangat kecil dengan memberikan pinjaman modal usaha sebesar Rp 20 – 50 ribu per orang. Masih membekas jelas di ingatan Rambe, Ibu Maryam merupakan pedagang pertama yang meminjam modal Rp 25 ribu dari BMT.
Ibu Maryam merupakan penjual pisau dan cobek emperan di sekitaran Pasar Beringharjo. Namun berkat keuletan dan kerja keras, kini Rambe telah berhasil menghijrahkan sebagian besar pedagang di Pasar Beringharjo dari praktik riba.
Menyatut catatan BMT, kini dari sekitar 6 ribu pedagang di pasar itu, 65 persennya atau sekitar 3.900 pedagang sudah menjadi anggota BMT yang didirikannya. Dengan sistem bagi hasil sesuai prinsip ekonomi syariah, BMT Beringharjo juga telah dirasakan banyak manfaatnya. Bahkan menurut Rambe, tak sedikit pedagang yang dahulunya pedagang kecil emperan kini sudah menjadi juragan.
Menurut pengalaman Rambe hal tersulit setelah berdirinya BMT bukanlah memberantas rentenir di pasar. Ibu tiga anak itu justru menjadikan rentenir sebagai guru dalam merangkul pedagang utamanya terkait kecepatan dan kemudahan pemberian modal usaha.
“Bukan sistemnya yang saya pelajari, tetapi kecepatan dan akses kemudahan peminjaman uang. Tantangan terberat untuk mengajak para pedagang bebas dari jerat rentenir adalah mengubah pola pikir mereka dalam peminjaman modal usaha,” jelas lulusan Fakultas Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.
Guna mengembangkan BMT, wanita kelahiran Pangkalan Brandan Sumatera Utara 50 tahun silam itu berpegang teguh pada 3 misi utama. Pertama, Rambe ingin mengedukasi dan mensosialisasikan sistem ekonomi syariah seperti yang tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 257 – 279 yang dimana isinya manusia diminta Allah untuk meninggalkan praktik riba. Kedua Rambe ingin menekan gerak langkah rentenir dan terakhir pemberdayaan.
Berbicara pemberdayaan, dikatakan Rambe, ialah edukasi terhadap pola pikir, wawasan dan kemampuan pedagang dalam mengatur keuangan. Melalui BMT, Rambe selalu menekankan para pedagang untuk menabung sebagai bentuk tindakan antisipasi bila sewaktu-waktu pedagang memerlukan uang.
“Bila pedagang untung tidak pernah bilang kepada kami, tetapi giliran rugi selalu mengeluh. Pola pikir seperti ini yang juga ingin kami ubah. Jika pedagang mendapat untung kan kami bisa ajak mereka untuk menabung, kemudian juga bisa menginfakan rezekinya. Rp 50 pun kami catat,” terang wanita penyabet penghargaan Tokoh Perubahan Republika tahun 2016 tersebut.
Dengan pola seperti itu lah kini tak sedikit mustahik yang diubah Rambe menjadi muzaki. Maka tak heran jika BMT terus mengalami pertumbuhan hingga 300 persen setiap tahunnya dan telah memiliki 16 kantor cabang di seluruh provinsi di Pulau Jawa dengan jumlah anggota 8.752 orang. Yang lebih mencengangkan dari modal Rp 1 juta di tahun 1994 kini aset BMT telah mencapai Rp 133 Miliar.
“Kuncinya ada di pemberdayaan. Pemberdayaan itu kuncinya pendampingan, pendampingan itu kuncinya istikomah, konsisten untuk mendampingi,” ucap Rambe.
Kendati perkembangan BMT begitu signifikan bukan berarti Rambe berhasil menghapus sistem atau mengusir rentenir dari pedagang pasar. Rambe mengaku para rentenir di Pasar Beringharjo itu “top markotop” karena telah hadir di pasar sejak pukul 3 pagi bersenjatakan rayuan maut. Persoalannya Rambe tidak sanggup melakukan seperti rentenir mengingat keterbatasan SDM dan memang karena bukan jam kerja.
Sepak terjang Rambe meredam gerak langkah rentenir juga tak selamanya mulus. Rambe mengaku pernah mendapat intimidasi dari kelompok rentenir saat mensosialisasikan BMT di Pasar Baru Bandung, Jawa Barat. Ketika itu manajer BMT cabang Bandung dikatakan Rambe menerima perlawanan secara fisik meski tak mengalami luka serius.
Selain itu sistem pinjam uang ala rentenir yang sudah terpatri di benak pedagang selama bertahun-tahun juga menjadi kendala bagi Rambe dalam mengembangkan BMT. Ditanya bagaimana Rambe mendekati pedagang untuk menjadi anggota BMT, Rambe menjawab kuncinya dengan edukasi.
Edukasi yang dimaksud Rambe pertama melalui pendekatan dakwah dengan membentuk kelompok-kelompok pengajian. Dalam pengajian tersebut Rambe selalu menghadirkan uztad yang betul-betul bisa membaur dan menyampaikan pesan yang mudah diterima masyarakat. Penyampaian juga ringan.
“Dengan pendekatan dakwah dan menjelaskan ayat-ayat Al-quran orang dari tidak percaya menjadi percaya. Dari orang riba menjadi tidak riba, dari yang tidak shalat menajadi shalat. Itu lah sesungguhnya pekerjaan saya. Uang itu hanya alat, uang itu hanya fasilitas,” kata Rambe.
Selain itu tambah Rambe, disetiap kesempatan BMT juga tak pernah bosan mengingatkan pedagang bahwa perlunya mencari rezeki yang halal jauh dari praktek riba. Dengan demikian sedikit demi sedikit pedagang yng tadinya enggan, kini mau bergabung bersama BMT.
“Jadi mereka kami buat sadar bahwa berusaha bukan sekedar mudah mendapat modal. Mereka harus ingat hidup ini ada matinya yang perlu dipertanggungjawabkan. Maka kita harus menghindarkan riba. Dari situlah mereka tergerak untuk beralih meninggalkan riba,” terang Rambe.
Rambe sadar betul bahwa seluruh aset yang dimiliki BMT berasal dari dana umat. Untuk itu Rambe selalu menganggap anggotanya bukan sebagai debitur melainkan keluarga. Dari dana aset BMT tersebut 70% digunakan untuk layanan produktif dan 30% untuk charity yang ditujukan kepada dhuafa dalam bentuk berbagai layanan seperti kesehatan dan pendidikan.
Rambe melanjutkan 70% dana yang digelontorkan BMT digunakan untuk memberdayakan masyarakat dalam bentuk program Sahabat Ikhtiar Mandiri (SIM) berisi 5 – 10 orang per grup. Kini anggota SIM sudah ada di 14 Kecamatan di Yogyakarta. Dalam perkembangannya Dompet Dhuafa dikatakan Rambe juga tak lepas tangan, setiap beberapa bulan sekali baik Rambe maupun Dompet Dhuafa kerap saling tukar pengalaman dalam sebuah forum diskusi.
“Di grup ini mereka saling memotivasi dan setiap 2 minggu sekali kami berikan pendidikan dan pelatihan usaha. Mereka berasal dari kalangan marginal, rata-rata anggota SIM tinggal di pinggir sungai,” kata Rambe bersemangat.
Rambe memiliki keinginan besar untuk mensosialisasikan BMT keluar Pulau Jawa terutama di kampung halamannya di Pangkalan Brandan, namun langkahnya masih terganjal oleh SDM yang masih terbatas. Bagi Rambe menjalankan BMT bukan berbicara untung rugi, tetapi seberapa banyak ia dapat menolong pedagang untuk keluar dari jerat riba yang diterapkan rentenir.





