Puluhan Tahun Siswa di Probolinggo Sebrangi Sungai untuk Sekolah

Ilustrasi/ MNC Media

PROBOLINGGO – Puluhan siswa TK hingga SMA di Raudlatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam, Dusun Gunung Wurung Desa Opo–opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo  sudah puluhan tahun  menyeberangi sungai jika pergi ke sekolah karena tak ada jembatan.

Mereka berangkat dan pulang sekolah dengan menyebrangi Sungai Rondoninggo yang berada di kaki lereng Pegunungan Argopuro.

Tak hanya itu, mereka mempertaruhkan nyawa melawan arus sungai selebar 15 meter ini. Karenanya, sebagian siswa dibantu dan digendong orangtuanya.

Salah satu siswa, Sukron mengatakan, jika air sungai besar, mereka memilih libur, karena  takut menyeberangi sungai.

“Kami lewat sungai ini ke sekolah, tak ada jembatan. Kalau hujan dan air sungai besar, libur ke sekolah,” ujarnya, Jumat (5/5/2017), dikutip Kompas.com.

Bahkan Hanimah, orangtua siswa, mengaku tak tega membiarkan anaknya sendirian menyeberang sungai ke sekolah, sehingga ia pun harus menggendong anaknya.

“Banyak orangtua menggendong anaknya untuk menyeberang. Kalau tinggi air sungai sepaha, kita jalan terus. Kalau di atas itu, kita gak berangkat. Anak-anak di sini menyeberangi sungai ke sekolah sudah berlangsung lama, sekitar puluhan tahun,” tukasnya.

Pemkab Probolinggo kini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membangun jembatan, bersama dengan  Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ( PUPR) dan Bapedda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah).

“Jenis infrastruktur jembatan yang cocok adalah jembatan gantung. Pasalnya, selain lebar sungai 15 meter, akses jalannya hanya berupa jalan setapak. Sehingga jika membangun jembatan beton, harus dibarengi pembangunan jalan akses yang lebih lebar,” ucap Kepala Dinas Pendidikan Dewi Korina.

Advertisement