KESEKIAN kalinya Pemkot Surabaya hendak menggelar Festival Rujak Uleg, untuk mengajak rakyat kembali mencintai makanan atau menu tradisionalnya. Sebab di era gombalisasi ini, rakyat Indonesia sudah kadung gandrung menu-menu Barat, dan melupakan menu-menu tradisional warisan leluhur. Di Yogyakarta misalnya, kini tak ditemukan lagi bakso asli kota itu, karena sudah didominasi bakso Wonogiri yang bisa “mewabah” senusantara.
Rujak Uleg itu memang satu paket dengan Rujak Cingur. Tanpa bumbu utama rujak uleg, irisan cingur itu tak bisa disebut Rujak Cingur. Begitu pula sebaliknya, rujak uleg tanpa cingur juga bukan lagi disebut: Rujak Cingur. Ini memang makanan khas Surabaya yang bikin ketagihan. Ke Surabaya tanpa mencicipi Rujak Cingur, sama saja belum pernah ke Surabaya.
Rujak Cingur memang sudah jadi ikon kota Surabaya, sebagaimana gudeg untuk Yogyakarta, lumpia Semarang, geplak Bantul, getuk goreng Sukaraja (Banyumas), wingka Babat (Lamongan), oncom Bandung, brem Madiun, tahu Kediri, jenang Kudus, dodol Garut, dan masih banyak ikon-ikon kota lainnya.
Untuk kota Yogyakarta, sebetulnya ada makanan khas yang cukup lezat, tapi kini sudah tamat. Dia adalah bakso asli kota itu, yang rasanya jauh lebih lezat dari bakso yang biasa kita temukan di mana-mana. Sejak tahun 1975-an, bakso yang pakai thethelan dan tahu pong itu sudah mulai terdesak oleh dominasi bakso Wonogiri, dan sekarang hilang sama sekali.
Tapi mau bagaimana lagi, makan bakso memang urusan selera lidah orang per orang. Bakso Yogya menjadi terasa lebih lezat, karena baksonya memang masih asli, ketika digigit butiran bakso itu masih berwarna merah karena masih banyak dagingnya. Beda dengan bakso model sekarang, tepung lebih mendominasi, sehingga penyuka bakso bisa mempertanyakannya, “Produsen mau jual bakso atau tepung?”
Sayangnya, masyarakat Yogyakarta sendiri tak pernah mempertanyakan, ke mana perginya bakso-bakso khas kotanya itu? Pemprov dan Pemkotnya juga tak pernah memikirkannya, apa lagi pejabat penentu kebijakan juga banyak yang sudah bukan lagi priyantun Ngayogyakarta Hadiningrat. Lebih-lebih generasi mudanya, mereka tak peduli lezatnya bakso. Lha wong sate tanpa bumbu kecuali garam (sate klathak), anak muda kini juga sedang menggemarinya.
Tak hanya budaya, soal menu saja generasi muda sekarang memang lebih condong kebarat-baratan. Piza yang bagi lidah Jawa tak lebih berasa kemplang, juga sedang digandrungi. Begitu hamburger, fried chicken, lebih akrab bagi anak muda kota. Ada juga rasa gengsi di situ. Katanya, kongkow-kongkow di gerai ayam goreng lebih bergengsi ketimbang makan ayam goreng di Warteg. Padahal sesungguhnya, makan di warung atau gerai mewah, gengsinya hanya sebatas lidah saja. Setelah masuk perut ya sama saja.
Langkah Walikota Tri Rismaharini sangat terpuji, bagaimana rakyat agar tetap mencintai menu tradisionalnya. Bolah-boleh saja mereka mereka menggemari menu Barat, tapi jangan melupakan pula rujak cingur, pecel semanggi, lontong balap. Karena pada gilirannya nanti ini akan berujung pada ketahanan pangan nasional. Boleh saja harga beras menggila, tapi bangsa Indonesia masih bisa makan singkong, ubi jalar atau pathi gelang (sagu).
Jangan remehkan singkong! Meski diledek sebagai kue sumbu, dibakar atau digoreng pada cuaca yang dingin, hujan tanpa henti, bakal terasa nikmat luar biasa. Tanyakan saja pada Kang Kromo atau Lik Marto warga desa. (Cantrik Mataram).





