Karena Limbah, Pencemaran Danau Singkarak Makin Parah

Danau Singkarak. (ist)

BATUSANGKAR – Pencemaran air danau Singkarak semakin parah, ditenggarai karena banyaknya limbah.

“Sungguh, kerusakan air dan lingkungan Danau Singkarak semakin parah dan menjadi-jadi. Air danau ini sudah keruh. Lingkungannya jadi tercemar akibat banyaknya sampah yang masuk. Kini, masyarakat nyaris tak bisa lagi menggantungkan kehidupan dari hasil produksi perikanan danau,” ujar Walinagari Guguak Malalo Mulyadi, Rabu (17/5/2017).

Dikatakan Mulyadi, dahulu sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil ikan yang mereka tangkap dari Danau Singkarak. Ikan bilih dan sasau merupakan primadona dan banyak dicari konsumen, selain rasanya yang gurih, kedua jenis ikan itu pun hanya hidup di danau yang berada dalam wilayah Tanah Datar dan Kabupaten Solok itu.

Pegiat Forum Masyarakat Selingkar Danau Singkarak Farizal Kamal, secara terpisah menjelaskan, untuk menyelamatkan Singkarak dari kerusakan dan pencemaran, dibutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah beserta masyarakat dari kedua kabupaten.

Kementerian Lingkungan Hidup RI (2014) dalam buku Gerakan Penyelamatan Danau Singkarak menjelaskan, ada banyak sumber pencemaran Danau Singkarak, di antaranya limbah pertanian, penduduk, deterjen dan keramba jaring apung.

Dari keempat jenis sumber pencemaran yang masuk ke Danau Singkarak itu, maka sedikitnya limbah pencemar adalah 40,02 ton/tahun. Rinciannya limbah pertanian 3,16 ton (7,89 %), limbah penduduk 16,88 ton (42,17 %), limbah deterjen 14,33 ton (35,80 %) dan limbah keramba jaring apung 5,65 ton (14,11 %).

Berdasarkan Kesepakatan Bali Tahun 2009, Danau Singkarak termasuk ke dalam 15 danau kritis yang perlu diselamatkan lewat Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan). Bahkan berdasarkan Konferensi Nasional Danau Indonesia II di Semarang pada 2011, Singkarak termasuk danau yang mendapat prioritas penyelamatan. –

Advertisement