YAMAN – Jumlah kematian akibat epidemi kolera di Yaman telah melampaui angka 470, menurut angka yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Senin peka ini.
Buletin terbaru WHO, yang telah meliput sejak periode 27 April mengatakan bahwa korban tewas orang yang telah meninggal akibat penyakit ini telah meningkat menjadi 471, meskipun ada “penurunan yang signifikan” pada jumlah orang yang didiagnosis menderita penyakit ini per hari.
“Jumlah rata-rata harian kasus yang tercatat antara 21-27 Mei adalah 2.529 – turun dari 3.025 dalam tujuh hari sebelumnya,” kata laporan tersebut, dilansir New Arab, Rabu (31/5/2017).
Para ahli mengatakan infeksi bakteri terjadi karena pemerintah Sana’a yang mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Pemerintah Sana’a telah mengurangi gaji staf pembersihan selama hampir enam bulan dari sekarang,” Perwakilan Regional Lingkungan untuk LSM Masyarakat Sipil di Asia Barat, Tareq Hassan mengatakan kepada The New Arab, merujuk pada wilayah yang dikuasai pemberontak tersebut.
Lonjakan antara pemerintah Houthi, yang mulai berkuasa melalui kudeta pada bulan September 2014 dan pekerja sektor publik memiliki dampak buruk pada masyarakat setempat.
Perang koalisi pimpinan-Saudi di Yaman juga berkontribusi terhadap wabah kolera.
Awal bulan ini, UNICEF mengumumkan bahwa sekitar 2 juta dollar telah dialokasikan untuk mengatasi krisis kolera Yaman yang memburuk, karena pihak berwenang menyatakan keadaan darurat di negara yang dilanda perang tersebut.
PBB, yang menyebut Yaman sebagai “krisis kemanusiaan terbesar di dunia”, baru-baru ini memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang telah terbunuh sejak tahun 2015 dan tiga juta orang mengungsi.
Sekitar 17 juta juga kekurangan makanan yang memadai, dengan sepertiga provinsi di negara ini berada di ambang kelaparan.





