HARI ini, tanggal 1 Juni 2017, untuk kesekian kalinya kita kembali memperingati hari lahir Pancasila. Tapi seperti hari-hari peringatan lainnya, kita kebanyakan hanya sekedar menikmati hari liburnya, bukan meresapi makna hari peringatan itu sendiri. Jadi, karena hari ini hari lahirnya Pancasila, asal kita ingat bahwa Bung Karno menciptakannya dulu tanggal 1 Juni 1945, sudahlah cukup. Selebihnya kita menikmati saja hari libur itu.
Pada libur nasional 1 Juni 2017 ini, kebetulan jatuh hari Kamis. Otomatis Jumatnya menjadi harpitnas alias hari kejepit nasional, jadi liburnya mbablas saja sampai hari Minggu. Soal nanti TKD (tunjangan kerja dinamis)-nya dipotong –bagi PNS– tak menjadi masalah. Kurang-kurang sedikit nggak papa, yang penting bisa menikmati liburan itu dengan bahagia. Kan maunya, waktu hidup bisa berfoya-foya, besok mati masuk surga.
Jika melihat kalender, setidaknya ada lima hari kejepit nasional di sepanjang 2017. Pada Senin 27 Maret, Jumat 12 Mei, Jumat 26 Mei, Jumat 18 Agustus, dan Jumat 22 September. Beruntunglah kita hidup di negara yang serba permisif. Ketika rakyatnya hobi mbolos, ya sudahlah ketimbang nanggung, jadikan saja hari curi bersama. Bukankah presiden kita terkenal berbudi bawa leksana, paring libur saben dina (memberi libur setiap hari)?
Di sinilah kontradiktifnya. Di satu sisi cuti bersama itu membahagiakan para pegawai dan karyawan, tapi di sisi lain hal ini bisa “mengancam” misi presiden yang: kerja, kerja dan kerja! Yang terjadi kemudian, karena banyak libur tersebut, karena tak ada pekerjaan di luar kantor malah “ngerjain” orang lewat medsos. Dapat informasi apapun dikomentari yang isinya malah ngompori, membuly, menebar SARA.
Itu kan sama saja bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, yang hari kelahirannya kita peringati hari ini. Jika kita simak kalimat para komentator di jagad maya, baik di situs maupun medsos; nampak sekali bahwa nilai-nilai Pancasila itu tak diresapi. Pancasila itu hanya pemanis bibir. Melecehkan agama, suku dan budaya lain enteng saja, mentang-mentang tidak pakai nama jelas. Padahal jika diurus dan diusut seperti kasusnya komentator soal “bom rekayasa” Kampung Melayu, bisa nangis dan mencret-mencret di Polda Metro Jaya.
Memperingati Hari Buruh 1 Mei, mestinya yang diresapi antara buruh dan majikan itu kan bagaimana meningkatkan produktivitas bagi kemakmuran bersama. Pengusaha menganggap buruh sebagai aset, dan buruh menganggap perusahaan sebagai lahan penghidupannya. Bagi buruh kebanyakan, hari 1 Mei dijadikan momentum menekan pengusaha untuk kenaikan gaji sesuai selera mereka. Sengaja demo besar-besaran, agar pemerintah berpihak pada mereka. Padahal sudah banyak kejadian, ketika pengusaha tidak mampu menaikkan gaji, mereka pilih tutup dan pindah ke kota atau negara lain. Akibatnya, banyak yang tadinya tukang demo berubah jadi tukang ngamen.
Karenanya setiap hari peringatan itu mestinya diresapi maknanya, bukan sekedar dinikmati kulitnya. Hari kelahiran Pancasila 1 Juni misalnya, kita harus bersyukur karena berkat kesepakatan para pendiri bangsa, Indonesia tetap ada. Lewat Pancasila sebagai dasar negara, kita bisa hidup berdampingan dengan pemeluk agama-agama lain. Kita bisa nyaman dengan tetangga yang beda bahasa, suku, budaya dan tradisi. Maka Bung Karno pun berani menyimpulkan, jika Pancasila diperas, intinya adalah: gotong royong! (Cantrik Metaram)





