ADA yang bilang, puasa itu sebetulnya kultur makan-minum yang dibalik. Biasanya siang malam bisa, kini tinggal malam saja. Ketika peluang makan-minum tinggal 12 jam, mestinya anggaran di bulan puasa menjadi lebih kecil. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenapa pengeluaran di bulan Ramadan menjadi lebih besar dan cenderung menjadi boros?
Sesungguhnya berpuasa itu tak sekedar mencegah makan dan minum, tapi juga meredam hawa nafsu. Karenanya, puasa yang sepanjang siang berlapar-lapar, sepanjang siang berhaus-haus, begitu magrib tiba langsung “balas dendam” batt bettt….. makan apa saja, itu namanya tak bisa meredam hawa nafsu. Sudah makan sepiring kolak, langsung nyambung makan sepiring nasi, tambah lagi es buah. Nanti ketika salat tarawih, buat sujud atau rukuk, serasa mau mbalik (muntah) itu kolak.
Di situlah letaknya pemborosan di bulan Ramadan. Di hari biasa cukup makan dan minum, di hari-hari mesti tambah takjil kolak atau es buah. Tadinya anggaran permulut sehari cukup Rp 50.000,- kini bisa menjadi Rp 75.000,- bahkan Rp 100.000,- Dalam sebulan untuk sebuah keluarga beranak tiga, menjadi berapa tuh? Belum lagi persiapan bikin kue-kue untuk Lebaran nanti, ini juga memerlukan anggaran yang tak sedikit. Dan itu belum tentu sudah masuk dalam anggaran perubahan di setiap rumahtangga.
Namun demikian setiap keluarga selalu optimis saja, karena punya andalan: nanti ada THR dari kantor. Padahal THR dari kantor biasanya dibagikan minimal 2 minggu sebelum Lebaran tiba. Ada juga yang seminggu menjelang Lebaran. Paling ironis, ada juga perusahaan swasta yang tak bisa memberikan THR sampai mendekati Lebaran. Maka kemudian sering terjadi demo buruh menuntut THR.
Bagi kantor-kantor swasta yang berkemampuan, THR ada yang diberikan 1,5 bulan gaji, ada juga yang 2 bulan gaji. Dulu jaman Pak Harto, PNS tidak diberikan THR. Tapi setelah pemerintahan SBY ke sini, tiap tahun PNS selalu menerimanya dengan istilah gaji ke-13. Karena itu pula bulan Ramadan dijalani dengan optimistis.
Sebuah hadits Nabi mengatakan, seandainya umatku tahu betapa besar pahala dan barokah bulan Ramadan, niscaya berharap 12 bulan dalam setahun itu dijadikan bulan Ramadan semua. Sebetulnya hadits ini palsu, tapi sangat populer di Indonesia. Namun setidaknya ini menandakan bahwa Ramadan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya dan diratapi kepergiannya.
Padahal tanpa ditunggu dan diratapi pun, Ramadan otomatis akan hadir setiap tahun. Masalahnya, Ramadan tahun depan apakah kita masih bisa menangi (menyaksikan) atau tidak, itu menjadi rahasia Illahi. Maunya manusia sih, akan selalu ketemu 50 tahun ke depan, 100 tahun, bakan seribu tahun lagi, seperti maunya penyair Chairil Anwar. Padahal faktanya, meski pencipta sajak “Aku” ini berharap berusia 1.000 tahun, oleh Sang Khalik hanya diberi 27 tahun (1922-1949).
Terlepas bisa atau tidaknya menyaksikan bulan puasa tahun berikutnya, sesungguhnya puasa Ramadan itu hanya menjadi kewajiban orang beriman, sesuai dengan Qur’an surat Abakoroh 183. Jadi jikalau tidak beriman, tidak perlulah berpuasa. Tapi sebagai orang Islam tapi tidak beriman, sama saja tanpa guna dia salat 5 kali sehari semalam. Untuk siapa salatnya itu, untuk siapa ibadahnya tersebut? Diakui atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari banyak juga orang berpuasa sekedar ngguyubi tetangga. Ada juga yang “puasa kendang”, yakni berpuasa cuma di awal dan akhir Ramadan. Ada juga yang puasa sebulan penuh, tapi dia tidak menjalani salat lima waktu. Jadi Islamnya sekedar di kolom KTP. (Cantrik Metaram)





