Shinda Istian, Lima Bulan Bisa Hafal 30 Juz Al Quran

Shinda Istian Ruhama/ Tribun Jabar

BANDUNG – Shinda Istian Ruhama (22), bisa jadi tauladan bagi remaja muslim dimana ia mampu menghafal 30 juz Alquran hanya dalam waktu lima bulan.

Dituturkan Shinda, ia mulai belajar menghafal Al Quran pada Agustus 2014 – Januari 2015, di Darul Quran, dengan berbagai metode penghafalan Alquran, di antaranya pengulangan ayat per ayat sebanyak dua puluh kali.

“Jadi metodenya pengulangan sebanyak dua puluh kali, misalnya bacaan ayat Yasin, itu harus diulang terus dua puluh sampai akhirnya hafal. Intinya ketika pengulangannya lama secara otomatis kalimat itu akan terserap di otak,” ucapnya.

Ia mengaku pada awal pendidikannya  merasa kesulitan dalam menghafal Al-Quran karena belum terbiasa. Namun dengan seiring berjalannya waktu, jumlah hafalannya pun terus meningkat, hingga akhirnya di tahun ketiga pendidikannya, Shinda telah mampu menghafal sebanyak 20 Juz Al-quran.

Setelah lulus, Shinda tidak lantas langsung melanjutkan pendidikanya ke perguruan tinggi. Dia memiliki prinsip untuk melanjutkan ke bangku kuliah, haruslah biayanya hasil jerih payah dirinya sendiri, terlebih faktor keadaan ekonomi keluarganya yang saat itu sedang menurun dan tidak mampu membiayai Shinda di bangku kuliah.

Shinda pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan penyelesaian sisa jumlah hafalan Al-quran yang tertunda selama masa SMA, dengan masuk ke sebuah pesantren milik warga negara Turki, yaitu United Islamic Cultural Center Indonesia (UICCI) di Jakarta.

Disini Shinda dituntut untuk mampu melafalkan tahsin dan tadjwid bacaan secara benar selama enam bulan pendidikannya sebelum melakuakan penghafalan al-quran.

Selain itu aturan di pesantren ini adalah siapapun yang manjadi santri disana haruslah sanggup menghafalkan al-quran mulai dari awal dengan aturan yang ditentukan, meskipun telah memiliki beberapa jumlah bacaan hafalan dan setiap santri yang telah khatam atau tahfidz wajib melanjutkan pendidikannya ke Turki.

“Setelah enam bulan kami belajar pelafalan tadjwid dan tahsin secara benar, enam bulan berikutnya baru boleh hafalan, dan total selama enam bulan tersebut saya hafal 13 juz. Tapi karena metodenya terlalu ketat dan orang tua pun pindah ke Bandung, saya pun diminta untuk keluar,” ujarnya, dilansir Tribun Jabar, Rabu (14/6/2017).

Keinginan untuk segera menyelesaikan hafalan pun tidak lagi dapat di bendung lagi, puncaknya di Agustus tahun 2014, Shinda pun memutuskan ke Bandung dan bersekolah di rumah tahfidz Miftahul Khoir di Rancaekek.

Disini pun ia kembali mengulang hafalan qurannya dari juz 1, akhirnya dan Januari 2015 ia pun mampu menghafalkan seluruh juz dalam Al-quran.

Kini, dengan berbekal hafal Al Quran ia berhasil menerima beasiswa sebagai mahasiswa di Universitas Islam Bandung, dan dapat melanjutkan sekolahnya di Perguruan Tinggi tanpa harus merepotkan kedua orangtuanya.

 

Advertisement