Tinggal Beberapa Saf

Di malam-malam Lailatul Qodar, justru peserta salat tarawih tinggal beberapa saf saja.

PUASA Ramadan tinggal 10 hari lagi, dan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H pun segera tiba. Nah di sinilah terjadi perbedaan kontras antara mesjid dan pusat perbelanjaan. Salat-salat tarawih di mesjid banyak yang tinggal beberapa saf, sementara pusat perbelanjaan justru bertambah ramai. Alasan umat pun macam-macam, banyak yang sudah mempersiapkan mudik, tapi banyak pula yang mulai sibuk belanja baju-baju buat anak-anak, karena sudah dapat THR dari kantor maupun pabrik tempatnya bekerja,

Beberapa menit setelah Mentri Agama mengumumkan hasil sidang isbat tentang dimulainya puasa, umat pun bergegas pergi ke mesjid terdekat untuk salat tarwih. Jemaah tumpah ruah sampai meluber, dipisahkan dengan tabir. Bapak-bapak di depan dan kaum ibu di belakang. Suasana hiruk pikuk oleh kegaduhan anak-anak. Baik mesjid yang 11 rakaat maupun yang 23 rakaat sama penuhnya. Syiar Islam benar-benar terasa, karena 90 % penduduk Indonesia memang beragama Islam.

Tapi klaim 90 % itu sebetulnya hanya berdasarkan data di KTP, ketika kolom agama menyebutkan: Islam. Soalnya banyak juga orang Indonesia yang beragama Islam, tapi dia tidak menjalankan salat 5 waktu. Ada yang salatnya seminggu sekali. Maksudnya hanya Jumatan doang, sehari-harinya tidak. Banyak juga umat yang membaca 2 kalimah Syahadat hanya ketika sunatan dan nikahan. Ewa segitu jika dicap sebagai Islam Abangan, marah dan tersinggung dia.

Paling tragis –maaf kata nih– ada juga yang sudah berhaji dan berumroh abidin (atas biaya dinas), tapi keseharian tak juga menjalankan salat 5 waktu yang menjadi kewajibannya. Ada juga yang sudah bergelar haji, tapi ketika adzan dzuhur, asar dan magrib terdengar dari kantornya, dia tak bergegas ke mesjid atau musola. Padahal di rumahnya, sering digelar pengajian dengan ustadz kelas televisi.  Tambah ironis, ketiga ada anggota keluarga meninggal, banyak karangan bunga justru dari pengusaha panti pijat. Allah punya sejuta cara untuk mempermalukan umat-Nya.

Nah, ketika salat tarwih berlangsung, banyak juga tipe umat semacam itu. Mereka ikut memakmurkan mesjid sekedar tidak enak dengan teman sekantor atau mertua. Tapi karena beribadah itu merupakan wilayah pribadi, pengurus mesjid tak mungkin menyeleksi mana peserta tarawih yang pemeluk teguh maupun yang sekedar anut grubyuk (ikut-ikutan). Sama saja tak mungkin dibedakan, mana tarawihnya eks pendukung Ahok dan mana pula tarawihnya eks pendukung Anies.

Allah tak pernah membeda-bedakan umat-Nya. Kelompok Muhammadiyah tarawih 11 rakaat, silakan. NU tarawih 23 rakaat ya  mangga. Sebab tujuan salat tarawih itu sama, untuk menggapai pahala Allah Swt. Nabi bersabda: Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh hari di akhir Ramadan, malam lailatul kadar akan tiba. Banyak yang beritikaf di mesjid karena mencari pahala 1000 bulan itu. Tapi tak semua umat bisa memperolehnya. Justru ketika Ramadan tinggal 10 hari, saf-saf salat tarawih menyusut, tinggal 3-4 saf saja. Peserta tarawih yang lain sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Ada yang mempersiapkan mudik ke kampung, ada pula yang pergi ke pusat perbelanjaan untuk beli baju buat anak-anak. Maklum, THR dari kantor baik yang swasta maupun negeri sudah terima. Setiap menjelang Lebaran, THR ini menjadi sangat sensitip. Buruh menuntut pada majikannya, itu memang hak. Tapi banyak pula ormas-ormas minta THR, memangnya perusahaan itu nenek lo? (Cantrik Metaram)

Advertisement