Pengakuan Nur dan Leefa, Menyesal Tinggalkan Indonesia Demi ISIS

Leefa (baju hijau)/ AFP

RAQQA – Seorang gadis asal Indonesia, Nur (19) mengaku menyesal setelah 22 bulan memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk hijrah ke Raqqa, daerah yang diklaim kelompok ISIS sebagai ibu kota negara Islam.

Nur merasa terpedaya atas janji yang diberikan ISIS melalui foto dan video tentang negara Islam di internet yang membuatnya bersama 15 warga Indonesia lain memutuskan meninggalkan Raqqa.

“Semua bohong … ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet,” kata Nur kepada wartawan AFP di satu kamp di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa, Rabu (14/6/2017).

Kini, ia bersama ribuan orang lainnya telah  meninggalkan Raqqa yang kini tengah digempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung oleh militer Amerika Serikat.

“Ayah dan saudara laki-laki saya dimasukkan ke penjara,” ungkap Nur. Ketika keluarga Nur tiba di Raqqa, ayah dan saudaranya diminta menjadi milisi ISIS, padahal tadinya mereka mengira akan mendapat pekerjaan dengan gaji tetap.

Mirisnya lagi Nur terus dikejar-kejar milisi ISIS yang ingin menjadikannya sebagai istri milisi ISIS yang duda yang menurutnya mereka menikah hanya dua bulan atau dua pekan saja.

Selain Nur, Leefa  (38) yang juga berasal dari Indonesia menyesal meninggalkan Indonesia dengan harapan bisa menikmati hidup yang sebenarnya sebagai Muslim sejati di bawah kekuasaan daulah Islamiyah.

“Saya punya masalah kesehatan. Saya perlu operasi di bagian leher dan biayanya sangat mahal di Indonesia. Tapi di daerah ISIS semuanya gratis,” kata Leefa.

“Saya datang ke daerah ISIS dengan tujuan menjadi Muslim yang sebenarnya dan juga demi kesehatan,” katanya.

Ia mengontak anggota ISIS melalui internet, yang mengatakan ISIS akan mengganti uang tiket. Dikatakan pula Leefa akan bisa menikmati kehidupan di Raqqa.

Namun ketika tiba di Raqqa, kenyataan yang dia alami tak sesuai harapan. Operasi yang harus ia jalani tidak gratis dan biayanya mahal. Dan Leefa pun tak bisa menjalani operasi.

Kini, Leefa dan Nur termasuk di antara 16 WNI yang saat ini berada di kamp pengungsi di Ain Issa.

 

Advertisement