
INDONESIA, Malaysia dan Filipina menggelar patroli maritim bersama untuk mencegah kemungkinan merembesnya para kombatan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) jika kelompok radikal tersebut terdesak dari Marawi, Pulau Mindanao.
Patroli Maritim Trilateral (PMT) Indomafil , menurut Menhan Ryamizard Ryaqudu saat peresmian satgas tersebut di Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (19/6), menyampaikan pesan keras kepada NIIS, bahwa RI, Malaysia dan Filipina tidak akan memberi ruang gerak bagi mereka.
Ryamizard menyatakan, ketiga negara sepakat menempatkan NIIS sebagai musuh bersama dan musuh kemanusiaan dan tidak akan membiarkan kelompok itu menjadikan kawasan ASEAN sebagai lahan kegiatan misi mereka seperti dilakukan di Timur Tengah.
Ancaman NIIS sudah di depan mata mengingat baru-baru ini terungkap, sel-sel atau jaringan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang sudah menyebar dan aktif di dalam wilayah ketiga negara.
Sejauh ini paling tidak tercatat 60 sel atau jaringan NIIS tersebar di ketiga negara yakni 29 di Indonesia, 22 di Filipina dan 19 lagi masih mencari-cari celah untuk melaksanakan misinya di Malaysia.
Tertangkapnya sejumlah remaja asal Sumatera yang hendak menyeberang ke Zamboanga, Filipina oleh polisi Malaysia, menurut Direktur Analisis Kebijakan dan Konflik (IPAC) Sidney Jones, mengindikasikan adanya sel-sel tidur NIIS, karena sebelumnya jarang ditemukan mobilisasi kombatan dari wilayah Sumatera.
Konflik bersenjata yang memasuki minggu keempat di Marawi sejak pendudukan dan aksi penyanderaan di kota provinsi Lanao der Sur oleh kelompok Maute pimpinan Isnilon Hapilon yang berafiliasi dngan NIIS menunjukkan bukti perluasan kegiatan mereka dari Timur Tengah.
Sebanyak 350 korban tewas di tengah konflik, termasuk 26 warga sipil, 62 tentara dan 257 kombatan Maute yang berafiliasi dengan NIIS, dan walau tentara Filipina sudah berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah kota, belum mampu menguasai seluruh bagian kota dari tangan pemberontak yang terlindung baik di tengah padatnya permukiman penduduk dan rapatnya bangunan.
Di dua kota yang dideklarasikan sebagai ibukota NIIS pada 2014, Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah, kelompok tersebut juga di ambang kekalahan setelah kedudukan mereka digempur oleh kekuatan koalisi pimpinan AS, juga Rusia.
Titik balik yang dialami NIIS di medan tempur utama di Irak dan Suriah itu yang nampaknya mengubah strategi mereka dengan mengobarkan pertempuran di wilayah lainnya termasuk yang sedang berlangsung di Marawi saat ini.
Kesiapan warga dan aparat keamanan di pulau-pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan Filipina, juga melalui patroli maritim bersama di bawah PMT Indomafil diharapkan mampu menangkal rembesan kelompok Maute dan NIIS. (Kompas/NS)
Sudah empat pekan berlalu sejak kelompok Maute yang berafiliasi dengan NIIS menguasai dan menyandera ratusan warga Marawi, Pulau Mindanao, Filipina, namun belum ada tanda-tanda, tentara Filipina yang didukung pengeboman dari udara dan bantuan teknis dari militer AS bisa merebutnya kembali.
Guna mencegah rembesan combatant Maute dan NIIS ke wilayah terluar Indonesia, aparat kepolisian bersama TNI terus mengingatkan penduduk di wilayah yang berbatasan langsung dengan Pulau Mindanao.
TNI-AL telah menyiagakan enam kapal perang termasuk kapal selam dan satuan marinir guna meningkatkan pengamananan, khususnya di sekitar Pulau Miangas dan Marore di propinsi Sulawesi Utara yang lokasinya berdekatan dengan Marawi.
Selain berdekatan secara geografis, tali-temali interaksi hubungan antara anggota kelompok Maute dengan warga Indonesia, menurut Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) Sidney Jones, juga terjalin baik.
Jones menuturkan, salah seorang pendiri kelompok Maute – sebelumnya bernama Khilafah Islamiyah Minanao (KIM) – Omarkhayam Romato Maute menikahi perempuan Indonesia bernama Minhati Madrais.
Omarkhayam adalah pendukung pimpinan NIIS di Mindanao Isnilon Hapilon yang sedang diburu militer Filipina. Sekembali dari menimba ilmu agama di Mesir pada 2009, ia pernah mengajar di pesantren milik keluarga isterinya, Minhati di Bekasi, luar kota Jakarta.
Aksi-aksi teror NIIS di Indonesia sejauh ini juga sudah berkali-kali dilakukan walau korbannya relatif kecil dibanding dengan yang mereka lancarkan di Timur Tengah.
Selama 2016 a.l. tercatat peristiwa bom di Jl. MH Thamrin (14 Jan.), bom bunuh diri di Polresta Solo (5 Juli), pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda (13 Nov) dan tertangkapnya calon pembom bunuh diri Novia Juli dekat Istana Negera (11 Des.).
Pada 2017 perisistiwa bom panci di Pendawa, Bandung (27/2), bom bunuh diri di Kp. Melayu, Jaktim (24/5) dan tertangkapnya dua pendukung NIIS di Bandung (7/6).
Selain kelompok NIIS yang berniat mengubah Indonesia menjadi negara khilafah, bergabungnya politisi dan pejabat korup dengan para tokoh garis keras untuk mengkapitalisasi agama dan menghasut umat dengan isu-isu sensitif , juga bisa menyulut perpecahan bangsa .
Sebelum “penyakit” menggerogoti tubuh dan menjalar ke stadium lebih serius sehingga melumpuhkan sendi-sendi persatuan bangsa, tindakan tegas pemerintah untuk mencegah segala bentuk radikalisme harus dilakukan .
Benih-benih intoleransi dan paham radikalisme termasuk yang berasal dari NIIS harus segera dibasmi dari negeri ini.



