Apakah Selamet Katarak?

Nenek Rohaya dan ABG Selamet, dalam acara "Hitam Putih"-nya Dedy Carbuzier.

CINTA itu penuh misteri, sehingga sering pula menafikan perbedaan usia. Kakek-kakek bisa jatuh cinta pada gadis ABG, atau sebaliknya: pemuda ABG bisa kasmaran pada nenek-nenek keriput. Yang terjadi di OKU Sumsel, membuktikan hal itu. ABG Selamet Riyadi (16), mau-maunya menikahi janda Rohaya (71) yang keriput. Luar biasa, perbedaan usia itu sampai 55 tahun, ibarat cucu mengawini neneknya. Atau jangan-jangan Selamet memang penderita penyakit katarak akut?

Dalam kisah perwayangan juga ditemukan kisah lelaki belia yang menikahi nenek. Mereka adalah Abimanyu dengan Dewi Utari. Tapi jangan salah, sebutan nenek pada Utari sekedar status belaka. Abimanyu harus menyebut eyang, karena Utari adalah anak bungsu Prabu Matswapati, di mana raja Wiratha itu menyebut Harjuna ayah Abimanyu sebagai angger. Soal barang aslinya sih tetap jauh lebih muda, atau sama-sama muda, karena Abimanyu – Dewi Utari memang sepantaran.

Beda dengan pasangan Selamet ini, Rohaya memang sudah asli nenek-nenek dari sononya. Lalu kenapa si ABG ini mau menikahi wanita yang lebih pantas jadi neneknya? Apakah Selamet penderita katarak yang akut, sehingga tak mampu membedakan mana gadis cantik dan seorang nenek renta?

Perkawinan tak seimbang usia, biasanya terjadi karena si perempuan jauuuuh lebih muda dari suami. Ini ombyokan. Bisa perempuannya terlalu materialistis, bisa pihak lelaki yang ora nyebut (tak tahu diri). Bagi lelaki yang banyak uang, sementara ceweknya bau bensin, perkawinan macam begini bukan mustahil. Si gadis demi keterjaminan isi perut, sedangkan si kakek ingin memanjakan yang di bawah perut.

Kita sebagai bangsa yang ganteng, santun dan beriman, akhirnya harus percaya bahwa perkawinan Selamet – Rohaya memang sudah digariskan oleh Yang Di Atas. Kita mempercayai bahwa soal rejeki, jodoh dan kematian itu sebagai misteri Ilahi yang kita tak mampu menolak atau membantahnya. Kita juga percaya bahwa ada hikmah yang terkandung di balik perkawinan jomplang ala Slamet di Desa Karangendah, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ini.

Dari kecil Selamet Riyadi memang sudah yatim piatu, sehingga nenek Rohaya lah yang merawatnya. Terjadilah kemudian ungkapan Jawa: witing tresna merga kulina (cinta tumbuh karena lama bergaul). Agaknya Selamet juga penderita odiphus complex, sehingga dia bisa jatuh cinta pada wanita yang jauuuh lebih tua di atasnya. Sebetulnya pihak keluarga Rohaya juga tidak setuju, tapi Selamet kadung ngotot  untuk mempersunting si nenek.

Nenek Rohaya memang orang miskin tapi kaya budi, sehingga dia hanya mampu merawat bayi Selamet sekedar memberi makan dan pakaian ala kadarnya. Selamet tak sempat mengenyam pendidikan, sehingga tutur kata, perilaku, dan pemikirannya sangat ketinggalan. Bagaimana tidak, punya istri sudah demikian uzur kok masih membayangkan punya keturunan. “Ya adopsi lah,” celetuk Selamet tiba-tiba. Penonton pun tertawa, ABG yang demikian “ndeso” itu kok tahu istilah adopsi. Kulakan dari mana?

Maka tak mengherankan jika “Hitam Putih”-nya Dedy Carbuzier kali ini boleh dikata gagal, gara-gara terkendala soal bahasa dan alur pikiran Selamet yang pating pecotot. Meski Chika selaku pendamping berusaha jadi penerjemah bahasa Palembang yang baik, tapi Selametnya sering tak bisa menangkap alur pemikiran kedua presenter. (Cantrik Metaram).

Advertisement