
MENLU Amerika Serikat Rex Tillerson yang diutus Presiden Donald Trump menengahi kisruh diplomatik antara Qatar dan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk dan Mesir pulang dengan tangan hampa.
Tillerson berada di Jeddah, Arab Saudi Rabu lalu (12/7) untuk menggelar pertemuan dengan menlu Arab Saudi, Bahrain, Uni Arab Emirat dan Mesir dalam upaya merujukkan kembali hubungan keempat negara itu pasca penguncilan yang mereka lakukan terhadap Qatar.
Menlu AS itu kembali ke negaranya setelah singgah di Doha, Qatar, Kamis (13/7) untuk menemui Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani didampingi oleh pejabat dari Kuwait yang juga berperan sebagai penengah.
Tidak ada komentar yang disampaikan, baik oleh Tillerson maupun tuan rumah, Qatar terkait penyelesaian krisis diplomatik diantara negara Arab itu, sedangkan Menlu Qatar Sheikh Mohammad bin Hamad al-Thani saat melepas Tillerson hanya mengatakan: “Semoga bisa bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik”
Qatar, agaknya untuk menepis tudingan keempat negara yang menguncilkannya, saat kedatangan Tillerson, menandatangani MOU antara AS dan Qatar mengenai kerjasama melawan pendanaan terhadap kelompok teroris..
Padahal, salah satu penyebab dikucilkannya Qatar oleh keempat negara Arab dan kemudian diikuti sejumlah negara lainnya (a.l. Yaman, Libya, Maladewa, Mauritania) karena mereka menuding Qatar ikut mengalirkan dana bagi kelompok teroris dan melindungi tokoh-tokoh mereka.
Nota kesepakatan dengan AS yang antara lain memuat kerjasama pertukaran informasi dan pengalaman serta pengembangan mekanisme dan institusi terkait perang melawan pendanaan bagi terorisme dijadikan icon bagi Qatar bahwa negara itu bukan lah pendukung terorisme.
“Kami dituduh mendanai aksi teroris, padahal kami adalah negara pertama (di kawasan Teluk-red) yang menjalin kerjasama dengan AS memerangi pendanaan bagi teroris, “ demikian pernyatan pers pemerintah Qatar.
Setelah misi mediasi Tillerson tidak membuahkan hasil, agaknya Perancis akan mencoba melancarkan upaya diplomasi dengan mengutus menlunya, Jean –Yves Le Drian ke negara-negara Arab pekan depan.
Hubungan Qatar – negara di Teluk berpenduduk sekitar 2,26 juta jiwa dengan PDB per kapita 129.700 dollar AS (2016) – dengan ketiga negara Arab itu sudah renggang sejak Revolusi Arab (Arab Spring) pecah pada 2011.
Qatar mendukung Revolusi Arab dan jaringan kelompok militan Ikhwanul Muslimin (IM), sebaliknya Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) menentang fenomena yang bisa mengancam kelanggengan rezim monarki itu .
Hubungan Qatar dan ketiga negara tersebut dan juga dengan Mesir semakin memburuk setelah Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al Thani menyatakan negerinya menjalin hubungan baik dengan Iran dan Irak.
Iran dan Arab Saudi walau berada satu front dalam konteks permusuhan dengan Israel, saling bersaing satu dan lainnya untuk memperebutkan pengaruh di Timur Tengah.
Pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar adalah peristiwa terburuk pasca terbentuknya Liga Arab pada 1945 dan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada 1981 walau Mesir juga pernah “putus kongsi”, dikucilkan oleh negara-negara Arab pasca kesepakatan damai di Camp David, AS antara Mesir – Israel.
Bedanya, negara-negara Arab saat itu tetap membuka hubungan udara, laut dan darat dari dan ke wilayah Mesir, sedangkan dengan Qatar, ketiga moda transportasi dari dan ke teritorial negara-negara Arab dihentikan atau diputus.
Entah sampai kapan negara-negara Arab akan rujuk dan bersatu kembali. Waktu akan bercerita. (AP/AFP/Reuters/NS)




