Nasi Goreng Cikeas-Hambalang

Di jalan Kebonsirih Jakarta, begitu banyak orang berburu nasi goreng kambing yang maknyusss.....

SEBETULNYA nasi goreng itu menu “ndeso”. Tapi ketika yang menyantap Prabowo – SBY, jadi heboh. Tentu yang menarik bukan nasi gorengnya, melainkan pembicaraan di balik nasi goreng itu. Bisa jadi keduanya memilih menu nasi goreng karena ingin berpesan pada rakyat, janga suka menggoreng-goreng isyu yang tidak mendidik. Bisa bikin tambah keresahan rakyat ketika harga-harga semakin mahal.

Kamis malam kemarin Prabowo Ketum Gerindra ketemu SBY Ketum Demokrat di Cikeas. Belum juga pertemuan berlangsung, topik yang beredar duluan justru menu nasi goreng yang akan disuguhkan tamunya yang sama-sama Alumnus Akabri Magelang tahun 1970-an. Dan ketika pertemuan berlangsung, ternyata tertutup bagi pers, sehingga info yang diperoleh hanya seputar nasi goreng made in Ngawi yang rasanya maknyusss. Prabowo sendiri mengakui, meski nasi goreng itu hanya Rp 12.000,- seporsi, rasanya nendang banget, mengalahkan nasi goreng Hambalang.

Berdasarkan laporan intel, katanya Prabowo bekas mantu Pak Harto ini gemar sekali menu nasi goreng. Maka dalam pertemuan di rumah SBY di Cekeas itu dia bilang bahwa rasa nasi goreng Cikeas menyaingi nasi goreng Hambalang. Kenapa nasi goreng Hambalang jadi tersaingi? Sebab nasi goreng Hambalang itu juga “tercemar” oleh isyu mangkraknya Proyek Olahraga Hambalang yang dibuat bancakan kalangan partai.

Jadi buat kalangan politisi yang terlibat proyek itu, meski nasi goreng Prabowo di Hambalang demikian lezat, ketika mendengar isyu kasus Hambalang ini digoreng-goreng terus, tentu jadi tidak lezat lagi. Dari maknyusss jadi maknyosss! Bahkan boleh jadi menjadi seret untuk ditelan, meski sudah diglontor air kendi sebotol. Mending makan tahu bolat digoreng dadakan, yang sebutir hanya Rp 500,-

Nasi goreng adalah menu “ndeso” yang bisa diterima dari kalangan rakyat jelata hingga pejabat yang masih bertahta. Biar pun bisa jadi hanya daur ulang dari nasi basi/dingin, bila piawai memasaknya, kata Bondan Winarno, rasanya maknyuss  dan nendang banget. Padahal faktanya, meski nasi goreng itu demikian lezat, raja kuliner itu tak pernah memakannya sampai habis. Karenanya boleh percaya boleh tidak, ayam Bondan di rumah banyak yang mati, gara-gara makan tak pernah habis.

Nasi goreng memang sangat diakrabi kalangan pejabat, bahkan pada moment-moment tertentu digelar lomba masak nasi goreng. Ada juga pejabat yang menang lomba, karena nasi goreng masakannya begitu lezat. Bisa jadi dulu waktu kuliah masak sendiri. Atau dia sekarang dalam status duda, sehingga apa-apa dikerjakan sendiri.

Sebagai menu “ndeso” tapi sudah menasional, nasi goreng dalam negeri begitu banyak namanya. Ada nasi goreng jancuk; ini mesti dari Surabaya, nasi goreng kunir khas pasundan, nasi goreng seafood yang full udang, nasi goreng spesial, lalu nasi goreng kambing. Yang terakhir ini makannya harus terkontrol. Jika tidak, gara-gara efek daging kambing, gairah meningkat dan istri di rumah bisa disikat.

Di Solo tahun 1972-an, dulu ada nasi goreng RM Sari di Jalan Slamet Riyadi (Purwosari), yang rasanya lezat luar biasa. Warnanya memerah karena cabe, tapi tidak pedas-pedas amat, ketika tiba suapan terakhir masih tersisa minyak di piring. Karyawan dan redaksi majalah “Parikesit” di Jalan Sidomulyo 30 B kala itu, sangat menggemari. Lalu tiba-tiba ada petinggi majalah itu itu menawarkan diri sebagai kateringnya. Sejak itu nasi goreng Sari pun menghilang. Selera makan karyawan turun drastis, karena katering sang boss tidak enak. Saking kesalnya karyawan, mereka protes dengan menulis di rantang bekas nasi: le mbathi kakehan! (Cantrik Metaram)

Advertisement