SIERRA LEONE – Menghadapi ancaman penyakit, Sierra Leone mulai mengubur ratusan korban tanah longsor yang menyapu rumah-rumah di pinggir ibukota, yang menjadi salah satu bencana banjir terburuk di Afrika.
Ratusan warga Freetown antri untuk mengidentifikasi kerabat mereka yang tertimbun lumpur pada hari Senin di sebuah lembah di pinggiran kota Freetown. Pekerja bantuan memperingatkan adanya krisis kesehatan yang akan datang yang disebabkan oleh sekitar 400 mayat yang berada diantara iklim hangat dan membusuk.
Kepala koresponden Freetown Seneh Dumbuya mengatakan pada Reuters bahwa pemakaman 297 mayat tersebut dilakukan Rabu kemarin. Mereka dibawa ke pemakaman Ebola di Waterloo, sekitar 20 mil (30 km) di luar kota Freetown, kata Dumbuya.
Mereka tidak dapat menunggu eperti yang disarankan oleh pemerintah, bahwa penguburan dilakukan hari ini, Kamis 917/8/2017), karena sebagian besar jenazahnya membusuk.
Negara berpenduduk 6 juta orang adalah salah satu negara termiskin di dunia dan dilanda wabah Ebola Afrika Barat pada 2014-16, yang menewaskan 4.000 orang di bekas koloni Inggris tersebut.
Tim tanggap darurat telah berlomba untuk menggali korban selamat dan membuang jenazah namun kamar mayat pusat telah penuh sementara masih banyak jenazah yang belum ditemukan.





