NAMA Sarasechan pasti banyak yang kenal, terutama penonton TV. Itu lho presenter cantik dan cerdas yang sering nongol di tv Net. Tapi kalau Saracen, pasti baru kali ini mendengar. Padahal jutaan penggemar internet tanpa sadar telah jadi korban produk mereka. Dan NKRI kita terancam gara-gara kelakuan mereka yang jadi petualang penebar isyu dan gossip. Tapi begitulah hidup di era millennium, jualan fitnah berbau SARA pun bisa mendulang rupiah.
Ketika belum ada internet, berita fitnah dan gossip ditampung media massa lewat berita April Mop setahun sekali, yang dilansir tit…… tepat tanggal 1 April. Itu pun hanya kabar bohong yang ringan-ringan, tidak mengancam keamanan negara. Misalkan tahun 1975-an “Buana Minggu” Jakarta pernah menulis “Wienaktu –wartawan Berita Buana– menikah lagi”. Di Solo tahun 1970-an mingguan bahasa Jawa “Darma Nyata” memberitakan koran “Darma Nyata” dicetak di Jepang. Tapi hari berikutnya segera ada penjelasan atau ralat redaksi, bahwa berita tersebut sekedar April mop.
Tetapi di era gombalisasi sekarang ini, berita bohong atau hoax terjadi bukan hanya di bulan April saja. Sepanjang tahun, dari menit ke menit, selalu bersliweran berita aneh-aneh. Berbahagialah orang-orang yang tidak kenal internet, dia takkan termakan atau terpengaruh gossip-gossip murahan yang dilansir pakar Lembaga Intrik dan Pengembangan Isyu.
Tapi yang melek internet dan setiap hari bermain medsos di HP smartphone-nya, bisa panas dan galau jika termakan berita hoax. Diakui atau tidak, Gubernur Ahok yang elektabilitasnya 70 %, bisa tumbang dan masuk penjara juga karena kenceng-nya berita-berita hoax bermuatan SARA. Dalam urusan Pilkada, jualan SARA memang paling laku karena banyak penggemarnya, laris manis seperti pisang goreng.
Kemarin polisi membongkar sindikat penebar berita SARA yang bersarang di grup Saracen. Sejumlah orang ditangkap dari berbagai tempat, karena mereka mengendalikan berita hoax berbayar, khususnya yang bernuansa SARA. Rupanya, NKRI nyaris terancam juga karena ulah mereka. Sindikat itu terima bermilia-miliar, dan negara bisa bubar.
Saracen mengingatkan pada Sarasechan, presenter di tv Net. Nonton acara Sarasechan, bisa terhibur karena pembawa acaranya juga enak dipandang. Tapi Saracen, justru membuat netizen terbakar. Grup ini memang sengaja bikin publik kaco, dan mereka terima duit banyak dari pihak yang memesan dan membutuhkannya.
Kenapa produk Saracen laku keras? Karena ada ungkapan berbunyi: undhaking pawarta sudaning kiriman. Jika kiriman uang atau makanan, bisa menyusut di jalan karena dikebiri pihak-pihak yang diberi amanat. Tapi kalau berita, justru cenderung bertambah karena terus dibumbu-bumbui. Melihat ular sebesar pralon pompa air, oleh pihak ketiga sudah menjadi sebesar tiang telepon. Pihak ke 5 dan ke-6 seterusnya, ular itu sudah menjadi sebesar glugu atau batang kelapa. Mengerikan memang.
Meski sudah ada UU ITE yang bisa memberangus konten-konten hoax di medsos, kebebasan media massa yang terlalu bebas bisa membuat negara kuwalahan. Jaman Orde Baru, jangankan berita fitnah, berita benar saja jika merugikan pejabat negara, koran bisa ditutup. Sekarang, TV menebar berita fitnah dan sengaja membakar massa, pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Coba di jaman Pak Harto dulu, setasiun TV kerjanya menayangkan debat terbuka berbau SARA pasti langsung dicabut izinnya oleh Menpen Harmoko. (Cantrik Metaram)





