
YAMAN – Sebuah analisis terhadap data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 1.794 dari 2.103 kolera di Yaman atau 90 persen, telah terjadi di wilayah utara dan barat yang seluruhnya atau sebagian besar berada di bawah kendali milisi Houthi.
Daerah Houthi telah mencatat 84 persen infeksi kolera yakni 456.962 dari 542.278 kasus.
Area pemberontak, bersama dengan bagian-bagian Yaman selatan, juga mengalami tingkat kelaparan yang lebih tinggi dan membuat lebih banyak rumah sakit dan klinik dibom atau ditutup sejak pertempuran meletus pada bulan Maret 2015.
Aljazeera melansir pada Minggu (27/8/2017), pakar kesehatan dan hak asasi manusia mengatakan semua faksi dalam perang Yaman telah menyebabkan kerusakan sipil, kekuatan koalisi dan kendali koalisi laut telah menyebabkan krisis kesehatan ke medan pemberontak.
Dr Homer Venters, direktur program untuk kelompok penelitian Physicians for Human Rights, mengatakan kepada bahwa koalisi menyerang klinik dan pekerjaan limbah adalah “taktik perang” Saudi yang mencakup “weaponisation of disease”
Serangan koalisi dan blokade bahan bakar dan pasokan lainnya telah menyebabkan penduduk sipil di daerah Houthi lebih rentan terhadap kolera, dan kurang mendapat antibiotik dan bantuan untuk menyelamatkan nyawa lainnya daripada di bagian lain negara termiskin di dunia Arab.
“Selain penghancuran dari serangan udara di rumah sakit dan klinik, keadaan darurat kesehatan di Yaman telah diperparah oleh pembatasan impor impor bensin oleh pemerintah Saudi, sehingga meninggalkan pusat kesehatan yang tersisa tanpa listrik,” kata Venters.




