Habibie Yakinkan Jerman: Islam tak Identik dengan Terorisme

B.J Habibie

BERLIN (KBK) – Setelah serangan terorisme di Paris bulan lalu, Islam menjadi sorotan. Ideologi Islam dicap berada di balik aksi-aksi terorisme. Puluhan ribu pengungsi di Eropa yang notabene berasal dari negara-negara Muslim seperti Suriah pun terkena dampaknya. Mereka akhirnya dipersulit memasuki sejumlah negara di Eropa.

Presiden RI ke-3, Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie yang menjadi pembicara di sebuah Seminar di Berlin langsung menolak tudingan bahwa Islam berada di balik aksi-aksi terorisme, bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Ia meyakinkan, Islam tidak identik dengan kekerasan dan aksi terorisme. Islam, kata Habibie justru sangat sesuai dengan nilai-nilai demokrasi.

“Para pelaku teror itu tidak ada kaitannya dengan Islam, mereka adalah pelaku tindakan kriminal,” ujarnya dalam seminar “Demokrasi dan Islam” yang digelar oleh Hanns Seidel Siftung akhir November lalu.

Dalam salinan pidato yang diperoleh KBK, Habibie menjelaskan bagaimana Islam bisa sangat kompatibel dengan demokrasi di Indonesia. Hubungan yang serasi ini kata Habibie bisa menjadi panutan bagi Muslim di Jerman bagaimana mereka menyatu dengan masyarakat lokal. Meskipun Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia bukan merupakan negara Islam.

“Ada 221,8 juta umat Islam di Indonesia, ini populasi terbesar di dunia. Namun demikian Indonesia bukan negara Islam,” tegasnya.

Lebih lanjut Habibie mengatakan, Indonesia sangat pluralistik. Di sana, ada ratusan suku dan etnis. Mereka juga memiliki agama yang berbeda-beda. Agama dan budaya juga bisa berjalan beriringan.

“Budaya dan agama sangat erat berhubungan dan menentukan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Habibie menambahkan, untuk menyatukan beragam agama, kelompok etnis dan suku, Indonesia memiliki Pancasila sebagai pengikatnya.  Habibie juga menyarankan, kepada warga Jerman, termasuk Muslim, untuk mengadaptasikan budaya dan agama sehingga tidak terjadi benturan.

Senada dengan itu, Peter Gauweiler, seorang politisi dari Bavaria’s Christian Social Union, mengatakan bahwa agama memiliki peran penting dalam persatuan dan penyatuan cita-cita bersama di tengah masyarakat.

Di Bavaria—salah satu negara bagian di Jerman—sendiri, proses akulturasi antara masyarakat Kristen Jerman dengan Muslim dari Turki sudah cukup lama terjadi. Namun demikian, keberadaan pendatang Muslim juga tidak serta merta menghapus budaya lokal. Ia mengutip motto negara tersebut: “Kita terbuka dengan orang asing, namun (budaya) milik sendiri dipertahankan.”

Ia juga sepakat, tidak bisa serta merta kita menyematkan kata “Islam” kepada para teroris itu. “Itu tidak ada hubungannya dengan Islam,” tukasnya.

Advertisement