
RUSIA bersama Belarus menggelar latihan perang-perangan Zapad 2017 selama sepekan sejak Kamis (14/9), “diskenariokan” guna menghadapi serangan pemberontak yang didukung kekuatan negara-negara tetangga.
Unjuk kekuatan kedua negara itu tidak pelak lagi mengundang kecurigaan negara-negara di sekitarnya terutama yang berada di kawasan Laut Baltik yakni Estonia, Latvia dan Lithuania yang juga sudah memisahkan diri dari Uni Soviet dan kini juga bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Otoritas Rusia sendiri berkilah, Zapad 2017 merupakan latihan bersifat defensif, untuk pertahanan diri dan sama sekali tidak ditujukan untuk menghadapi salah satu kelompok negara Eropa.
Dalam pernyataan resminya, Rusia menyebutkan, latihan Zapad 2017 akan mensimulasikan pertahanan terhadap serangan teror dari kelompok ekstrim di kawasan itu.
Sebaliknya, Menteri Pertahanan Lithuania Raimundas Karoblis khawatir, Zapad 2017 berpotensi memicu konflik di kawasan itu yang pada gilirannya, berujung pada penempatan pasukan beruang merah itu di wilayah Belarus.
Para petinggi militer Barat terutama Panglima tentara AS di Eropa Jenderal Ben Hodges juga mengkhawatirkan tujuan terselubung di baliknya yakni untuk menyerang Polandia atau negara-negara berbahasa Rusia di bekas sempalan Uni Soviet di kawasan Laut Baltik.
Sementara Menhan Inggeris, Michael Falcon mengingatkan, latihan yang digelar Rusia bersama Belarus bertujuan untuk menguji kemampuan NATO , sehingga pakta pertahanan itu harus terus diperkuat guna menghadapi Rusia yang makin agresif.
Sebaliknya, pihak Moskow sendiri mengaku, latihan hanya diikuti 12.700 personil, 250 tank, 70 pesawat terbang dan 10 kapal perang, walau pihak NATO memperkirakan, paling tidak 100.000 personil dilibatkan.
NATO meragukan jumlah kekuatan yang dilibatkan dalam latihan itu, karena menurut mereka Rusia, sering mengecil-ngecilkan kekuatan yang digelarnya.
Pihak AS sendiri pekan lalu baru saja menggelar latihan bersama salah satu negara sempalan Uni Soviet lainnya, Ukraina yang saat ini juga sedang bermasalah dengan Rusia setelah wilayah Krimea di negara itu dianeksasi negara beruang merah itu.
NATO – aliansi militer Barat pimpinan AS beranggotakan 28 negara di Eropah termasuk sejumlah negara ex-Uni Soviet saat ini menempatkan 40.000 anggota pasukan di Eropa.
Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, AS menempatkan satu batalion pasukannya di wilayah Baltik selama digelarnya “Zapad 2017” dan melakukan patroli guna melindungi koridor udara Estonia, Latvia dan Lihtuania.
Di era globalisasi dan kemitraan kini, selayaknya AS dan Rusia yang beseteru dan berada di dua kutub kekuatan saling berseberangan saat Perang Dingin yang berakhir sekitar empat dekade lalu, tidak memancing-mancing konflik baru. (Reuters/AP/AFP)




