Dua bocah tampak asyik bermain di kali kecil yang melintas di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Airnya keruh, berwarna cokelat pekat bercampur lumpur. Aroma tak sedap pun terkadang muncul menusuk rongga hidung.
Tangan kedua bocah itu apik membuka tutup jeriken ukuran 2 liter yang mereka bawa dari rumah. Saling melempar canda tawa mereka berjongkok di tengah kali yang tinggi airnya tak melebihi betis orang dewasa. Jeriken itu lantas mereka rebahkan di atas permukaan air.
Mereka tidak sendiri, di belakangnya ada orang tua mereka yang duduk di atas batu kali. Sambil mencuci piring sesekali matanya mengawasi. Buih putih yang dihasilkan sabun bercampur abu gosok terlihat menggenang memenuhi bibir sungai.
Berjarak 15 meter dari sana, giliran 3 anak laki-laki yang terlihat larut bermain air di tepian kali yang lebih dalam. Tepat persis di seberangnya berdiri jamban tradisional tempat buang hajat.
Tak kurang dari satu menit jeriken yang tadi direbahkan terisi penuh, dengan senyum menghiasi wajah, anak-anak itu membawanya pulang. Meski kotor, air tersebut ternyata digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci beras, pakaian, dan tak jarang digunakan untuk masak kendati telah melalui proses perebusan. Sebagian ada juga yang memberikannya untuk ternak.
Begitulah potret keseharian warga Kecamatan Cibarusah bila tengah dilanda kekeringan. Akses warga Cibarusah terhadap air bersih masih menjadi masalah klasik di kawasan ini, terutama saat musim paceklik hujan atau kemarau. Ironisnya saat memasuki musim hujan kawasan Cibarusah merupakan daerah langganan banjir.
Mengutip data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi, setiap memasuki musim kemarau sedikitnya ada 3.000 kepala keluarga di Cibarusah yang terdampak kekeringan. Ke tiga ribu KK tersebut tersebar di tiga desa yakni di Desa Sinarjati, Ridogalih dan Ridomanah.
Kultur tanah Cibarusah yang keras dan tandus turut menyulitkan warga membuat sumur bor. Sumur yang sudah ada pun selalu kering tiap kemaru. Tak heran bila warga Cibarusah kerap menempuh jarak yang tidak dekat hanya untuk mengambil air bersih di kali Ciheo dan Cipamingkis.
Untuk mendapatkan air yang sedikit jernih lagi-lagi dibutuhkan usaha keras dengan cara menggali bebatuan di bibir sungai pada sore hari, karena dari pagi hingga siang biasanya air akan keruh. Selain di sungai, perhatian warga untuk mendapatkan air bersih juga tertuju pada MCK umum.
“Hampir setiap memasuki kemarau selalu begini,” kata Sunimah, warga Desa Ridhogalih yang sumurnya selalu kering saat musim kemarau.
Untuk mendapatkan air bersih Sunimah harus berjalan sejauh 5 kilometer. Sunimah mengaku kerepotan mencari air karena tidak lagi memiliki suami. Terlebih, jalan yang ditempuh terjal dan jauh.
“Ya terpaksa kalau nggak kuat minta orang untuk ngambil air. Untuk satu ember dikasih Rp 5 ribu atau beli air isi ulang Rp 3 ribu per galon,” paparnya.
Hal serupa juga dialami oleh Enim yang masih satu desa dengan Sunimah. Saat sumurnya kering di musim kemarau, Enim lebih memilih membangun embung mini di pekarangan rumah. Embung tersebut berguna sebagai penampung air hujan, namun kualitas airnya rendah dan warnanya kehijauan.
Buruknya kualitas air disebabkan oleh ketiadaan sistem pembuangan yang baik, sehingga air yang digunakan untuk mandi akan jatuh kembali ke tempat yang sama. Maka tak heran bila di embung milik Enim terdapat buih-buih putih sabun di setiap sudutnya. Dari belasan embung yang dibuat warga Ridogalih, tercatat hanya ada embung milik musola yang kualitas airnya lebih baik dan steril.
“Nyuci di situ, mandi di situ, gosok gigi di situ dan orang sini juga kalau mau buang hajat juga di dekat situ atau di kebon. Abis mau bagaimana lagi, air susah dan toilet pada nggak punya,” kata Enim.
Hebatnya, kendati air yang dikonsumsi Enim merupakan air yang berkualitas buruk, Enim beserta keluarga mengaku jarang terserang penyakit. Enim berseloroh hal tersebut bisa terjadi mungkin karena tubuhnya telah kebal karena sudah terlalu sering memakai air keruh.
Namun kelangkaan air yang dirasakan Enim kini tak terjadi lagi saat tim respon Disaster Manajement centre (DMC) Dompet Dhuafa memberikan sarana instalasi air bersih tahun 2015. Ahmad Baihaqi dari divisi respon DMC mengatakan, dari tahun 2015 hingga 2016 DMC secara aktif memberikan bantuan air bersih dengan sistim droping saat Cibarusah dilanda kemarau.
Droping air dilakukan menggunakan sebuah mobil tangki berkapasitas 16 ribu liter yang dilakukan setiap minggu ke Desa Sinarjati, Ridogalih dan Ridomanah. Supaya memiliki efek manfaat jangka panjang, pada tahun 2016 DMC membangunkan fasilitas di sumur milik warga di tiga titik berbeda.
Salah satunya dengan menginstalasi sumur menggunakan pompa air sekaligus dibuatkan sistem pipanisasi dan toren air. Pijakan untuk mengambil air juga dicor semen supaya bisa digunakan warga untuk area mencuci pakaian. Dengan luas 2 X 3 meter lantai coran tersebut bisa menampung 4 orang sambil melakukan aktifitas mencuci pakaian dalam waktu yang bersamaan.
“Dengan cara tersebut penerima manfatanya hampir satu RW. Bahkan warga dari desa dan RW lain juga kerap mengambil air di sana. Kalau dihitung konsumsi per KK itu ada 5 jeriken air kapasitas 25 liter per jeriken dan alhamdulilah meski pemakaian air banyak tetapi sumur nggak pernah kering meski musim kemarau dan kualitas airnya bagus,” ujar Baihaqi.
Agar sumur tidak cepat surut, lanjut Baihaqi, setidaknya harus dilakukan pengeboran hingga kedalaman 115 meter. Di Desa Ridogalih, DMC juga merapikan bilik bambu yang biasa digunakan warga untuk mandi dan buang hajat. Bilik tersebut disulap oleh DMC menjadi lebih manusiawi dengan menggunakan material batu bata di bagian pondasi dan asbes untuk bagian atap. Sebelumnya bilik tersebut lebih mirip kandang ternak karena materialnya sudah lapuk termakan usia. Selain bilik, DMC juga mendirikan MCK umum 2 pintu yang sudah terkoneksi air bersih.
Baik Bilik maupun MCK, keduanya berdiri di lahan milik Enim yang sudah ia wakafkan untuk kepentingan umat. Sebagai perawatan instalasi, DMC membentuk komunitas yang anggotanya merupakan warga sekitar yang diketuai Enim. Setiap warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut dianjurkan memberikan amal jariah yang sifatnya sukarela.
“Dulu warga banyak yang BAB di kebun karena rata-rata penduduk sini jarang yang punya toilet. Toilet hanya ada di rumah di mana salah-satu anggota keluarganya ada yang kuliah. Ini menandakan warga sini kurang teredukasi mengenai pentingnya sanitasi. Oleh karena itu kami ingin memberikan contoh yang baik,” jelas Baihaqi.
Titik ketiga DMC fokus terhadap pembenahan prasarana musola dengan membangun MCK, memperbaiki toilet, mendirikan toren air dan pemasangan pipanisasi air wudhu. Selain menjadi fasiltas umum, pemilihan musola juga bertujan agar penduduk tidak hanya mengambil air, namun juga bisa sekalian menyempatkan diri beribadah. Baihaqi menuturkan untuk membangun semua sarana tersebut DMC mengucurkan Rp 20 juta per titik.
Menurut sejumlah warga di Cibarusah, pada tahun 2014 sempat ada program pembangunan MCK dari PNPM. Namun keberadaan MCK tersebut tidak berlangsung lama karena kekurangan pasokan air. Posisi MCK yang jauh dari sumber air merupakan salah satu penyebabnya. Kini MCK tersebut terbengkalai dan rusak.
Meski belum mampu mengatasi semua problematika namun respon yang diberikan DMC Dompet Dhuafa di Cibarusah, sedikit banyak telah membantu masyarakat mengakses air bersih. Kini Sunimah, Enim dan warga lainnya tak perlu lagi sulit mencari air. Untuk mandi, mencuci, sanitasi, masak dan minum saat musim kemarau, mereka tak perlu lagi pusing. Sarana dan prasarana yang dibangun DMC siap memberikan air bersih yang setiap saat bisa diakses oleh masyarakat Cibarusah yang membutuhkan. [Aditya Kurniawan]





