UNICEF: Anak-anak Rohingya Sangat Trauma

Ilustrasi Pengungsi Rohingya dipagari kawat berduri supaya tak kembali. Foto: Anadolu

BANGLADESH – UNICEF sejauh ini telah menghitung lebih dari 1.400 anak Rohingya yang telah melintasi perbatasan dengan orang tua manapun.

Kelaparan adalah yang dirasakan mereka sehari-hari dan kebanyakan anak harus mengemis jika mereka ingin makan. Untuk melakukan itu, mereka harus meninggalkan tenda mereka. Orang tua mereka, yang terlalu kewalahan dan miskin, tidak bisa mendampingi mereka.

Sebagian besar bayi sakit, terbakar demam atau menderita diare. Air bersih dan toilet sangat langka karena tidak ada.

“Anak-anak ini mengalami pengalaman yang mengerikan, mereka sangat trauma,” kata Fatema Khyrunnahar, seorang petugas perlindungan anak dengan UNICEF, dikutip AP.

Ini adalah ruang langka dimana anak-anak ini bisa saling berdekatan, bermain, bernyanyi dan berteriak, dan membacakan buku kepada mereka.

“Mereka berada di bawah tekanan yang begitu banyak,” kata Khyrunnahar. Dia telah bekerja dengan anak-anak dalam kesusahan sebelumnya namun mengatakan bahwa tragedi anak-anak di kamp-kamp pengungsi ini kadang-kadang tak bisa menguasai dirinya.

Advertisement