Begini Cara Memori Manusia Bekerja

Glioblastoma, kanker otak paling ganas. (Foto: freepik)

JAKARTA, KBKNEWS.id – Memori manusia adalah sistem penyimpanan informasi yang sangat dinamis dan fenomenal. Setiap detik, otak kita memproses miliaran impuls sensorik, memilih mana informasi yang relevan untuk disimpan dan mana yang harus dibuang.

Memori bukan sekadar gudang data pasif, melainkan pondasi utama dari identitas dan kesadaran diri kita. Sebagaimana dijelaskan dalam dokumenter DW bertajuk “Our memory – A phenomenal storage system”, seperti dirangkum KBKNEWS, Rabu (22/7/2026). Ingatanlah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan keputusan yang kita ambil untuk masa depan.

Secara biologis, pembentukan ingatan terjadi melalui interaksi kompleks jutaan sel saraf (neuron) di dalam otak. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, sinyal listrik dan kimia bergerak melintasi celah sinapsis untuk membentuk jejak memori yang disebut engri (memory trace). Pakar neurobiologi Prof Hannah Monyer menyoroti betapa krusialnya peran memori dalam menopang kehidupan sehari-hari manusia:

“Memori adalah benang merah dari keberadaan kita sebagai manusia,” katanya.

Dua Kategori Memori

Sistem ingatan manusia secara umum terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu memori eksplisit dan memori implisit. Memori eksplisit (atau memori deklaratif) bertanggung jawab menyimpan fakta dan pengalaman sadar, seperti mengingat nama ibu kota atau momen pernikahan.

Sebaliknya, memori implisit bekerja secara tidak sadar untuk mengelola keterampilan motorik—seperti kemampuan mengendarai sepeda atau mengikat tali sepatu tanpa perlu berpikir keras. Otomatisasi memori implisit ini sangat menghemat energi otak sehingga kita dapat fokus pada hal lain.

Lupa Ternyata Berguna

Meskipun kita sering kali mengeluhkan daya ingat yang menurun, proses “lupa” sebenarnya merupakan mekanisme biologis yang sangat penting. Otak kita akan mengalami kelebihan beban (overload) jika harus menyimpan seluruh detail kecil yang dijumpai setiap detik.

Profesor ilmu saraf molekuler, Prof Andreas Papassotiropoulos, menjelaskan bahwa lupa adalah proses aktif otak dalam menyaring informasi. “Lupa adalah fungsi kognitif yang sangat penting. Otak harus secara aktif menghapus detail yang tidak berguna agar kita bisa membedakan mana informasi yang benar-benar penting dan mana yang tidak,” paparnya.

Cerita Penyintas Kerusakan Otak

Namun, ketika memori terganggu akibat kerusakan otak, dampaknya bisa sangat traumatis terhadap identitas seseorang. Hal ini dialami oleh Nicole Adam, seorang penyintas stroke di usia akhir 40-an yang kehilangan memori serta kontrol motoriknya. Nicole menggambarkan rasa frustrasinya saat terbangun tanpa ingatan yang utuh.

“Apa yang saya alami setelah terkena stroke adalah kehilangan bagian dari diri saya. Rasanya seperti ada informasi yang tiba-tiba terputus begitu saja dari pikiran saya,” katanya.

Kisah pemulihan Nicole memperlihatkan keajaiban neuroplastisitas—kemampuan otak untuk merestrukturisasi dan membentuk koneksi saraf baru. Melalui terapi okupasi yang dikombinasikan dengan teknologi Virtual Reality (VR), otak Nicole dilatih kembali untuk mengenali gerakan dan memanggil ulang ingatan yang sempat hilang. Latihan interaktif ini merangsang neuron yang tersisa untuk mengambil alih fungsi area otak yang telah rusak.

Cara Memaksimalkan Ingatan

Di sisi lain, bagi seorang seniman peran, memori adalah instrumen kerja utama yang harus dilatih setiap hari. Aktris panggung asal Dresden, Henriette Hölzel, yang dituntut menghafal ribuan baris dialog untuk berbagai lakon teater sekaligus, membagikan rahasianya.

“Ketika kita memanggil kembali sebuah ingatan, ingatan itu sering kali terikat dengan ruang dan gerakan fisik. Saat saya mengingat ruang teater tempat saya berlatih, dialog yang terasosiasi dengannya akan ikut keluar secara alami,” katanya.

Teknik asosiasi ruang ini berakar dari metode klasik yang juga digunakan oleh para atlet memori dunia, seperti Johannes Mallow (juara ingatan asal Jerman). Johannes memanfaatkan metode Istana Memori (Method of Loci) untuk menghafal ratusan deret angka, tanggal sejarah, hingga urutan kata dalam hitungan menit. Menurut Johannes, kemampuan mengingat luar biasa bukanlah bakat ajaib bawaan lahir.

“Metode tempat ini bisa digunakan oleh siapa saja. Kita hanya perlu mengasosiasikan informasi abstrak dengan lokasi fisik yang sudah sangat kita kenal di pikiran kita,” jelasnya.

Selain teknik hafalan, faktor gaya hidup seperti kualitas tidur dan aktivitas fisik memegang peranan kunci dalam menjaga kesehatan memori. Saat tidur nyenyak, otak melakukan proses konsolidasi—memindahkan informasi dari penyimpanan jangka pendek ke memori jangka panjang. Prof Hannah Monyer memberikan saran praktis bagi siapa saja yang ingin belajar secara efektif.

“Jika Anda ingin belajar dan mengingat sesuatu dengan baik, pergilah tidur. Di dalam tidurlah sinapsis menguat dan informasi dikonsolidasi dengan optimal,” katanya.

Sebagai penutup, dokumenter ini mengingatkan kita bahwa kapasitas memori manusia tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang sepanjang hidup. Kombinasi antara stimulasi mental yang konsisten, rasa ingin tahu pada hal-hal baru, olahraga, serta istirahat yang cukup adalah kunci utama menjaga otak tetap tajam. Memori membentuk siapa diri kita hari ini, dan bagaimana kita merawat otak kita menentukan bagaimana kita mengingat masa depan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here