Kisah Murid Budiman

Sebanyak 65 orang guru yang pernah mengajar Fredy Chandra di SD-SMP-SMA diajak jalan-jalan ke Singapura.

KISAH Fredy Chandra dari Pekalongan, yang karena kesuksesannya mampu mengajak 65 bekas guru-gurunya ke luar negeri, sungguh mengharukan. Kita jadi ingat akan lagu Bu Sud berjudul “Pergi Belajar”. Ini kisah benar-benar langka. Sebab di era gombalisasi di mana murid banyak yang berani terhadap gurunya, Fredi Chandra tampil sebagai murid budiman yang begitu ikhlas “memanjakan” para bekas gurunya di usia-usia senjanya.

Ketika kita masih usia SR atau SD, pastilah akrab dengan lagu Ibu Sud yang liriknya: Oh ibu dan ayah selamat pagi, kupergi sekolah sampai kan nanti, selamat belajar nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman. Lagu itu biasa diperdengarkan ketika murid menjelang pulang, atau juga lewat radio. Radio pun hanya  RRI, sebab mana ada radio swasta mau siarkan lagu-lagu yang tidak ada nilai komersilnya.

Bekas murid atau peserta didik menurut istilah sekarang, kebanyakan hanya mampu menyanyikan saja lagunya Ibu Sud tersebut. Berkemampuan pun, jarang yang mau bersusah payah sebagaimana Fredy Chandra. Jangankan mengeluarkan dana sampai beratus-ratus juta,  terbersit dalam ingatan saja sama sekali tidak. Bagi kebanyakan murid, ketemu bekas guru lalu bertegur sapa dan mencium tangannya, itu sudah cukup. Bukankah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang takkan pernah menonjol-nonjolkan jasanya pada bekas peserta didiknya.

Tapi Fredy Chandra lain. Bekas murid SD Sampangan, siswa SMPN I dan SMAN I Pekalongan ini ingin menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada bekas para gurunya. Dia sadar, bisa jadi pengusaha sukses juga berkat didikan para gurunya itu. Maka ketika usahanya sebagai kontraktor kabel bawah laut demikian sukses, dia rela menyisihkan anggaran hampir Rp 1 miliar untuk “memanjakan” 65 gurunya, baik dari SD, SMP, hingga SMA.

Kisah Fredy Chandra ini menjadi antitesa ketika banyak guru yang dihinakan oleh muridnya sendiri. Betapa tidak? Guru menjewer atau memukul muridnya, adalah bagian dari pendisiplinan anak didik. Tapi oleh murid dan orangtuanya, banyak yang menyalah artikan sebagai penganiayaan serius. Maka kini banyak guru diadukan ke polisi. Banyak pula yang masuk penjara gara-gara diperkarakan orangtua murid. Sampai-sampai guru mengusulkan UU Perlindungan Guru.

Murid kini memang lebih kritis dan berani pada gurunya. Murid tahun 1970-an ke bawah, kalau nakal dan berani pada guru paling-paling secara diam-diam ngombe wedang jatah guru. Tapi sekarang, gara-gara tidak dinaikkan kelas atau diberi nilai jelek, murid berani menganiaya guru. Bahkan kadang-kadang, orangtua ikut membantunya.

Murid-murid dulu sangat hormat pada guru-gurunya. Ketika Pak/Bu Guru tiba di sekolah, murid berebut untuk meletakkan sepedanya ke tempat parkir, sementara yang lain berebut membawakan tasnya untuk ditaruh di meja kelas. Murid sekarang, guru datang mlirik thok (melotot saja). Bahkan ketemu di jalanpun banyak yang pura-pura tidak melihatnya. Bisa karena malu, bisa pula karena kesombongannya.

Tapi guru memang tidak pernah mengharapkan penghormatan dan penghargaan berlebihan dari muridnya. Bagi mereka, jika para muridnya menjadi orang sukses di masyarakat, menjadi orang penting di negri ini, sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Pak Guru hanya bisa bercerita pada pada muridnya kini, “Contoh si Anu, karena rajin belajar, dia jadi orang sukses. Kamu harus bisa menirunya.” Hanya itu pinta Bapak dan Ibu Guru kita. (Cantrik Metaram)

Advertisement