BALI – Meningkatnya status Gunung Agung menjadi awas membuat pendapatan pariwisata di Bali merosot, bahkan warga Bali yang menggantungkan penghasilannya pada usaha wisata disana terancam kehilangan pendapatan.
Seorang pemilik dive center di Amed, sekitar 15 km (9 mil) dari gunung berapi dan tepat di luar “zona bahaya” resmi, mengatakan bahwa banyak tamunya telah membatalkan wisatanya.
“Jika (situasi) berlangsung selama sembilan bulan atau lebih, maka kita tidak punya pilihan selain menutup karena kita tidak memiliki uang tersisa untuk beroperasi dan membayar staf,” kata Helene Rabate,pengelola tempat wisata tersebut.
Begitu juga dengan pemilik restoran Wayan Widarti yang mengaku telah mengalami penurunan drastis pendapatannya.
“Bisa lebih buruk dari pada saat bom Bali terjadi karena ada ketidakpastian kapan (letusan) akan terjadi dan berapa lama kita menunggu,” katanya, kepada Reuters.
Diketahui Bali merupakan salah satu destinasi Indonesia yang sangat dikenal di Mancanegara, yang terkenal dengan ombak, pantai dan kuilnya, dan menarik hampir 5 juta pengunjung pada tahun lalu, lebih dari setengah jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Pariwisata, merupakan tonggak ekonomi Bali, merupakan penghasil valuta asing terbesar keempat di Indonesia setelah sumber daya alam seperti batubara dan minyak kelapa sawit.
Meski pemerintah mengatakan Bali tetap aman untuk pariwisata, namun banyak terjadi pembatalan wisata dilakukan wisatawan asing maupun lokal.




