Djarot-Sudiro di Taman Suropati

Rumah dinas Gubernur DKI Jakarta yang terletak di Taman Suropati, Menteng.

SORE nanti DKI Jakarta ganti pemimpin baru, Anies Baswedan-Sandiaga Uno hingga Oktober 2022 mendatang. Gubernur Djarot Saiful Hidayat yang sudah habis masa jabatannya 15 Oktober kemarin, sejak Sabtu sudah meninggalkan rumah dinasnya di Taman Surapati, Menteng. Dia pindah ke rumah kontrakan di Kemang. Tahun 1960, Gubernur Sudiro (1953-1960) juga meninggalkan Taman Suropati dan pindah ke rumah sewa di Jalan Teuku Umar 37, masih juga di Menteng. Nasib keduanya sama, meski jadi gubernur di ibukota negara, ternyata tidak punya rumah pribadi.

Djarot dan Sudiro memiliki sejumlah persamaan sebagai gubernur Jakarta, sama-sama berdasarkan penunjukan. Djarot ditunjuk sebagai penerus Gubernur Ahok, karena dia dipenjarakan akibat korban kasus SARA. Sedangkan Sudiro, menjadi Gubernur –awalnya walikota – Jakarta Raya karena ditunjuk oleh Presiden Sukarno. Dari 1953-1958 sebagai Walikota, dan 1958-1960 sebagai Gubernur Jakarta Raya.

Sudiro ini loyalis Bung Karno. Ketika Jepang menyerah ke Sekutu dan disusul kemerdekaan RI, Sudiro dari Barisan Pelopor yang punya gagasan mencarikan kendaraan dinas presiden. Dengan penuh segala resiko, Sudiro “mencuri” mobil opsir Jepang yang menjadi Kepala Departemen Perhubungan. Sopirnya orang Kebumen dikasih uang Rp 300,- untuk pulang kampung dan Sudiro membawa mobil Buick itu untuk Presidennya. Dia rela menyisihkan rapelan gajinya, demi menjaga kehormatan pemimpinnya.

“Iki lho Bung, mobil sing pantes kanggo Presiden,” kata Sudiro pada Bung Karno. Bung Karno pun tertawa dan sejak itu presiden pertama RI itu selalu mengajak Sudiro untuk membangun Indonesia. Di antaranya menjadi Residan Surakarta (1947-1949), Residen Madiun (1950-1951), Gubernur Provinsi Sulawesi (1951-1953), sampai kemudian menjadi Walikota Jakarta.

Tapi rupanya ada yang iri atas kedekatan Sudiro dengan Bung Karno. Dia difitnah orang bahwa telah membeli diam-diam rumah jabatan Taman Suropati. Duitnya dari mana? Tapi Bung Karno termakan kabar itu, sehingga Sudiro dimarahi. Paling celaka, tahun 1960 dia terpaksa berhenti dari Gubernur Jakarta, padahal mustinya sampai tahun 1962.

Isyu bersliweran. Kabarnya Bung Karno marah karena Sudiro mengritik Presiden mengawini Hartini. Tapi dalam buku Pelangi Kehidupan (Idayu Press 1986) Sudiro mengaku bahwa Bung Karno kecewa dengan lambannya pembangunan di Jakarta. Bahkan Bung Karno marah, karena ada berita bahwa Sudiro hendak menggesar lokasi Monas ke Grogol. Padahal itu hanya fitnah, karena pejabat tinggi penyebar berita hoax itu kemudian secara gantlemen minta maaf pada Sudiro.

Sepeninggal dari Taman Suropati, Sudiro ngontrak di Jalan Teuku Umar 37. Dia bermunajat pada Allah agar segera bisa memiliki rumah sendiri. Ee, 6 bulan kemudian H si Cina pemilik rumah itu mengajak barter rumah seluas 1.100 M2 itu dengan mobil Corvair Chevrolet baru. Meski harus utang sana-sini, Sudiro setuju dan akte jual beli lewat notaris ditandatangani. Seperti sudah menjadi firasat, beberapa bulan setelah menikmati mobil baru tersebut, H si Cina budiman itu meninggal dalam usia 85 tahun.

Gubernur Djarot Sabtu lalu juga sudah tinggalkan Taman Suropati dan mengontrak di Kemang, agar dekat dengan sekolah anaknya. Sama seperti Sudiro, dia juga tak punya rumah selama jadi Wagub Ahok dan Gubernur Jakarta. Akankah Djarot juga akan bermunajat pada Allah Swt, agar memperoleh rumah pribadi dengan mudah? Semoga sukses di tempat pengabdian baru nanti.  (Cantrik Metaram)

Advertisement