Ilmu Komunikasi “Empan-Papan” Wali Songo

Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, tergolong ahli dalam berkomunikasi, pandai menggunakan sarana untuk memudahkan sasaran (audience) menangkap pesan yang ingin disampaikan. Salah satu sarana itu adalah produk budaya, termasuk bahasa lokal, “setting” dan situasi-kondisi sosial-budaya masyarakat.

Mengamalkan kondisi “existing”, menurut bahasa pouler sekarang, berarti menerapkan ilmu “empanpapan”, tahu tempat dan saat yang tepat. Sunan Drajat bisa menjadi contoh. Untuk menarik orang Jawa suka berderma beliau menggunakan simbol-simbol yang dikenal masyarakat. Contohnya, nasehat yang disampaikan dalam bahasa Jawa sbb:

Menehono teken marang kalunyon,

Menehono payung marang kang kodanan

Menehono mangan marang kang kaluwen

Menehono sandang arang kang kawudan.

Artinya: Berilah tongkat kepada orang yang sedang berjalan di tempat licin. (Ada versi lain “wong wuto” atau orang buta), Berilah payung kepada orang yang kehujanan, Berilah makan kepada orang yang kelaparan, Berilah pakaian kepada orang yang telanjang.

Saya bersyukur berkesempatan ziarah ke makam Sunan Drajat di desa Paciran, di pantai utara Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada tahun 1994. Saya baca nasihat yang tertulis dalam bahasa Jawa itu terpampang di atas makam, terlihat jelas dari sebelah timur.

Maksud imbauan Sunan Drajat yang bernama asli Raden Qosim itu adalah agar kita peduli, suka menolong kepada orang-orang yang sedang memerlukan pertolongan. Mereka yang perlu makan dan pakian adalah orang-orang miskin, termasuk kaum “dhuafa”. Kebetulan, saya mampir ke makam itu dalam rangkaian kunjungan ke proyek pertanian yang diprakarsai Dompet Dhuafa, di desa Kedung Pring, Lamongan.

Sebagai wartawan saya tergelitik untuk menelisik, mengapa Sunan Drajat tidak mengutip ayat-ayat Alquran yang berisi kewajiban Muslim untuk bersedekah. Ayat-ayat tentang itu banyak sekali dalam Alquran. Di antaranya, dalam Al Baqarah, ayat 3 (QS 2:3), yang artinya ” Orang beriman adalah orang yang percaya kepada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah kami karuniakan kepada mereka.”

Ada beberapa lagi ayat tentang kewajiban berzakat yang disebut langsung berurutan setelah mendirikan shalat, termasuk QS 2:43, yang berbunyi “wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata” (dirikanlah sholat dan tunaikanah zakat). Pesan ini diulang dalam QS 2:83, 110 dan 177 dan di beberapa surat lain.

Sebagai wali, tentu Sunan Drajat fasih berbahasa Arab, bahasa Alquran. Beliau memilih bahasa Jawa sebagai bahasa dakwah. Dan, nasehat itu disusun begitu indah, puitis dan ritmitis. Mungkin, beliau juga mempergunakan bahasa Arab, tapi tidak ditulis dalam nasihat tersebut. Beliau sangat cerdas dengan memilih bahasa Jawa dalam bentuk nasihat yang bisa disenandungkan.

Pemilihan contoh “wong kang kelunyon” (berjalan di tempat licin), sangat cocok dengan “setting” setempat. Jalan becek, berair, setelah hujan turun banyak ditemui di pedesaan, termasuk di Lamongan. Juga imbauan untuk memberi payung kepada orang yang kehujanan. Di wilayah padang pasir, termasuk Arab Saudi, jarang turun hujan lebat. Kalaupun hujan turun, tanah yang berpasir tidak menjadi licin, karena air hujan langsung diserap. Berbeda dengan kondisi tanah di Pulau Jawa, yang umumnya jika bercampur air menjadi tanah liat dan licin. Juga karena hujan banyak turun di Pulau Jawa, perlu payung agar tidak basah.

Para wali memang manusia pilihan (terpilih): sufi, dai dan komunikator piawai.

Advertisement