BANGLADESHÂ – Bangladesh mulai menyaring kedatangan pengungsi Rohingya dan menyebabkan antrian panjang dan membuat sekitar 15.000 pengungsi bertahan di pinggiran sungai yang meluap dengan perbekalan yang tidak mencukupi, sejak Selasa (17/10/2017).
Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) memperkirakan 582.000 pengungsi yang hampir 60 persen diantaranya adalah anak-anak, sudah masuk ke Bangladesh.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jenewa, UNHCR mengatakan banyak di antara pengungsi semula memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka di negara bagian Rakhine, Myanmar utara, walaupun berulangkali diancam supaya pergi atau dibunuh. Mereka akhirnya pergi karena desa mereka dibakar.
Letnan Kolonel Soe Myint Oo dari Polisi Perbatasan Myanmar di Rakhine mengatakan kepada VOA Siaran Bahasa Birma, penduduk Muslim terus meninggalkan negara bagian itu, walaupun pemerintah membujuk mereka untuk tetap tinggal dan menjanjikan bantuan bahan pokok dan keamanan.
Hla Tun, seorang warga Rohingya mengatakan bahwa penduduk Muslim tetap tidak percaya terhadap janji pemerintah akan menyediakan perlindungan yang lebih baik.





