KHOFIFAH Indarparawansa yang berambisi jadi Gubernur Jatim, kini sudah jatuh hati pada Emil Dardak –Bupati Trenggalek– untuk menjadi Cawagubnya. Sebelum pilihan itu jatuh, istilah “Tokoh Mataraman” menjadi demikian populer. Banyak pihak yang menyodorkan Cawagub untuk Khofifah dari Mataraman. Publik sendiri masih bingung, apa sih Tokoh Mataraman itu. Sebab umumnya orang hanya tahu blangkon Mataraman (Yogya) dan Jl. Matraman Raya, Jakarta.
Di Jakarta ada kampung Bali Matraman, yakni kampung dekat Manggarai, sebelah barat daya dari gedung Kemensos. Depan gedungkementrian tersebut ngidul sedikit, ada Jalan Matraman Raya, yang menghubungkan ke Jalan Salemba Raya. Nah di Kemensos sendiri, Bu Menteri Khofifah Indarparawansa sedang berburuTokoh Mataraman untuk mendampingi sebagai Cawagub Jatim. Sebab konon katanya, dengan menggandeng Tokoh Mataraman, peluang untuk menang semakin besar.
Mengapa di Jakarta ada kampung bernama Matraman? Merunut sejarahnya, itu semua bermula dari keberanian Sultan Agung Hanyakrakusuma raja Mataram (1613-1645) menyerang Batavia yang dikuasai VOC. Ribuan tentara dikerahkan dari Kotagede (ibukota Kerajaan Mataram) menuju Batavia dengan jalan kaki. Maklum di jaman itu belum ada kereta api maupun bis malam.
Prajurit Mataram tersebut bermaksud menyerang benteng JP Coen yang terletak di Kota. Gudang pangan didirikan di daerah Karawang dan sebelum penyerangan pasukan bermarkas di daerah Matraman sekarang. Tapi karena gudang pangan tersebut dibakar, prajurit Mataram gagal menguasai Batavia. Sejak itulah kemudian muncul perkampungan, dari Mataraman menjadi Matraman.
JP Coen sendiri bukan mati oleh raja Metaram Sultan Agung, melainkan karena penyakit kolera. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Sultan Agung tak membunuh Gubernur VOC itu secara ekonomis saja, pakai santet dan tenung saja misalnya. Bukankah ilmu semacam itu sedari dulu kala sudah ada?
Dan di jaman now kini, kenapa Bu Mentri berburu tokoh Mataraman? Tidak diketahui motifnya. Namun banyak kalangan yang meminta Khofifah menggandeng tokoh dari kalangan Mataraman, bukan Matraman, bukan pula Mataram (Lombok). Jaman Orde Baru sih, tokoh Matraman satu-satunya hanyalah Jendral Ali Murtopo almarhum, karena Menpennya Pak Harto (1978-1983) itu memang tinggal di Jl. Matraman Raya.
Bila ditilik dari sejarah, Mataram adalah kerajaan yang berdiri setelah runtuhnya Pajang. Lewat perjanjian Giyanti (13 Februari 1755), kerajaan Mataram pecah menjadi dua, yakni Kraton Kasunanan (Surakarta) dan Kasultanan (Yogyakarta). Ke sininya, setiap menyebut Mataram atau Mataraman, asosiasi orang Jawa pastilah ke blangkon Mataraman yang mondolan-nya segede bakpao Setya Novanto.
Wayang kulit Mataraman, juga dimaksudkan untuk pakeliran gaya Yogyakarta. Meski sama-sama wayang kulit, gaya Surakarta memang beda dengan Yogyakarta. Penanda paling gampang adalah: gaya Yogya keprak-nya berbunyi ting…ting….dan gaya Surakarta berbunyi creng creng….. Bagi penggemar wayang fanatik, hal ini sering dibuat bahan ledekan. Keprak gaya Yogya katanya seperti tukang bakso dan gaya Surakarta seperti tukang solder keliling.
Bila Khofifah menginginkan Cawagub Metaraman, apakah itu artinya dia ingin ambil tokoh yang suka pakai surjan dan blangkon mondolan? Atau dia ingin Cawagub yang bisa mendalang gaya Yogyakarta seperti almarhum Ki Hadisugito dan Ki Timbul Hadiprayitno? Berani tarohan, Emil Dardak pilihan Khofifah sebagai generasi jaman now kelahiran Jakarta yang cenderung tak kenal wayang, dijamin tak bisa mendalang. (Cantrik Metaram)





