SAAT melihat Setya Novanto Ketua DPR RI-Ketum Golkar itu duduk di mobil tahanan KPK, dengan baju rompi oranye; bikin orang trenyuh. Bagaimana mungkin, seorang pejabat tinggi negara dengan mobil RI-6, rumah dan mobilnya pating kluthuk (banyak sekali), kok bisa-bisanya sampai pakai baju tahanan KPK. Tapi begitulah resiko menjadi pejabat sekaligus tokoh jarkoni alias: bisa ngajar ora bisa nglakoni.
Dari kejadian pilu, menyaksikan Setya Novanto pakai rompi oranye jatah dari KPK, kita pun akan berfikir: rompi yang ke berapa yang diberikan kepadanya? Mengingat koruptor yang ditangkap KPK silih berganti, bisa diasumsikan bahwa makin banyak koruptor usaha garmen makin maju. Soalnya, semakin banyak pendatang baru pelaku korupsi, KPK harus banyak-banyak pesan rompi oranye.
Di tengah perseteruan DPR dan KPK, pada 2 Nopember 2017 lalu di Yogyakarta Setya Novanto mengingatkan kader Golkar, agar menghindari korupsi. Terutama hal ini ditujukan kepada para kader Golkar yang dipercaya rakyat menjadi Kepala Daerah. “Kepala Daerah harus berhati-hati mengelola anggaran dan keuangan daerah,” kata Ketum Golkar itu.
Eh, 14 hari berikutnya justru dia sendiri yang ditangkap KPK atas dugaan tindak pidana korupsi. Begitulah tipikal pejabat dan politisi jarkoni. Di depan kadernya Setya Novanto secara ngelotok dan fasih mengingatkan harus berhati-hati mengelola anggaran (APBD). Padahal di DPR tahun 2011, dia sendiri justru sangat ceroboh mengotak-atik anggaran e-KTP. Gara-gara “kreativitas”-nya tersebut, dia kini dikandangi KPK.
Penonton TV dan Youtube di internet minggu-minggu ini menyaksikan, dengan tubuh lemas dan jidat benjol tinggal sebesar bakpia Pathok (Yogya), Setya Novanto menjalani pemeriksaan penyidik KPK sebagai tersangka kasus korupi e-KTP. Di tubuhnya melekat rompi oranye khas pembagian dari KPK. Cakep benerrrr….., sangat serasi dengan warna kulitnya yang terang, meski mengingatkan orang pada petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) di DKI Jakarta. Cuma bedanya, PPSU mengeruk lumpur dan sampah di gang-gang kampung, calon penghuni LP Sukamiskin ini ikut mengeruk harta negara.
Sebelum Setya Novanto, sudah cukup banyak pejabat dan politisi mengenakan baju semacam itu. Yang boleh dipertanyakan juga, baju itu sekedar inventaris sementara untuk tersangka, atau menjadi milik pribadi si calon napi? Lumayan juga buat kenang-kenangan nantinya, jika sudah bebas dari penjara LP Sukamiskin.
Dengan rompi oranye tersebut, tentunya si bekas napi LP Sukamiskin itu akan menjadi selalu ingat mimpi buruknya, bila tak mau disebut trauma. Dia bisa bertausiah pada keluarganya, jangan sekali-kali jadi koruptor. “Sengsara kita, tidur pakai kasur tipis, jadi satu pula dengan kakus.” Begitu kira-kira pesan bekas alumni LP Sukamiskin itu.
Pada September 2016 lalu Ketua KPK Agus Rahardjo bilang, sejak tahun 2004 lembaganya sudah menangkap 119 anggota DPR-DPRD, 15 gubernur dan 50 bupati-walikota. Belum lagi tangkapan setahun berikutnya hingga Nopember 2017 ini. “Ini harus kita sudahi,” kata Agus Rahardjo.
Dia sampai mengatakan begitu, kemungkinan karena stok rompi oranye di almari KPK sudah menipis. Padahal faktanya, wajah-wajah baru tersangka korupsi terus berdatangan. Itu artinya KPK harus semakin banyak pesan rompi oranye. Nah di sinilah kemudian bisa disimpulkan: makin bertambah orang korupsi, usaha garmen pun akan semakin maju. Tapi juga, pejabat itu keteladanan. Jangan hanya bisa ngomong, tapi harus memberi contoh, jangan jarkoni. (Cantrik Metaram)





