Ayam Bondan Winarno

Bondan Winarno ketika harus menikmati banyak makanan "mak nyusss" di berbagai wilayah tanah air.

RAJA kuliner Bondan Winarno yang terkenal sekali akan ungkapan “maknyusss” dan “nendang banget”, Rabu siang lalu meninggal dunia.  Sebagai wartawan yang harus banyak tahu berbagai masalah, dia memang memiliki banyak kebisaan, meski boleh dikata sekedar “numpang lewat”. Sebagai raja kuliner yang harus hobi makan enak, ternyata  menjadikan Bondan akrab dengan kolestrol dan penyakit jantung pun menyapanya. Namun bagi kepercayaan orang Jawa, gara-gara hobi banyak makan dan tak pernah dihabiskan itu, jika di rumah Bondan Winarno piara ayam, pastilah banyak yang mati!

Bondan memang wartawan berbakat. Sejak usia 10 tahunan dia sudah menulis di media, mungkin dimulai dari lembaran anak-anak. Dan ketika benar-benar menggandrungi dunia kewartawanan sekitar tahun 1970, kuliahnya di jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro (Semarang), ditinggalkan. Dia memilih jadi wartawan foto Puspen Hankam dan berlanjut di profesi yang berhubungan dengan kumunikasi massa.

Sebagai wartawan memang harus tahu berbagai masalah. Maka kehidupan Bondan Winarno penuh warna, meski semuanya dijalani  tak pernah lama, jika tak mau disebut sekedar numpang lewat. Pernah menjadi konsultan Bank Dunia di Jakarta (1998-1999), memimpin usaha periklanan, jadi Pemred majalah Swasembada (1985) dan Suara Pembaruan (2001-2003). Di luar kesibukan itu dia terus juga terus menulis di berbagai koran termasuk Kompas dan Tempo.

Dan ketika menjadi ketua “Jalansutra”, suatu komunitas wisata boga ke seluruh penjuru tanah air, mau tak mau Bondan Winarno harus banyak makan enak di mana-mana. Bahkan kemudian mengasuh wisata kuliner di Trans-TV, sehingga kata-kata Bondan seperti “maknyusss” dan “nendang banget” sangat diakrabi pemirsa. Oleh publik pun kata-kata itu digunakan untuk di berbagai konteks. Melihat gadis cantik dengan bodi seksi, anak muda akan berkomentar: maknyusss. Sebuah kebijakan yang tepat sasaran, disebut: nendang banget!

Menikmati makanan lezat dari berbagai pelosok nusantara, tentulah banyak di antaranya yang kaya akan kolestrol. Mungkin Bondan Winarno tak pernah menyadari, sampai kemudian tahun 2005 mulai merasakan sering kesemutan di jari jemarinya. Ketika dibawa ke dokter, ternyata itu gejala penyakit jantung. Berbagai usaha pengobatan dilakukan. Tapi Allah Swt menentukan lain. Rabu siang 29 Nopember 2017 lalu, raja kuliner itu dipanggil Sang Pencipta.

Lahir di Surabaya 29 April 1950 dan masa anak-anak hingga dewasa di Semarang, sudah barang tentu Bondan Winarno di kala bocah sering mendengar ungkapan dari para leluhur, bahkan tentunya sang ibu sendiri, “Le mangan dientekke, ndak pitike mati (makannya dihabiskan, nanti ayamnya mati).” Orang Jawa, akrab sekali dengan pepatah-pepitih para leluhur itu. Sebab meski kesannya sekedar menakut-nakuti anak-anak tapi maknanya dalam sekali.

Karena tuntutan pekerjaan, Bondan Winarno selama menikmati wisata kuliner tak pernah makan sampai habis. Bagaimana mau habis, jika habis makan ini, harus menikmati menu yang lain, untuk dishot kamare TV dan dikomentari. Walhasil, Bondan selalu banyak ninggal kokohan alias makan tidak selesai. Nah, andaikata di rumah banyak piara ayam, pasti banyak yang mati………

Pesan para leluhur tersebut memang sangat dalam. Dari kecil kita dididik untuk menghargai dan bersyukur atas rejeki dari Allah Swt. Jika kita membiarkan makanan mubadzir, sama saja menyia-nyiakan rahmat Allah. Ungkapan “le mangan dientekke” mengandung pesan bahwa kita makan secukupnya saja, jangan berlebihan. Kecuali mau jadi …….koruptor. Sebab koruptor itu selalu makan yang melebihi kebutuhannya, sehingga perutnya membuncit. (Cantrik Metaram)

Advertisement