Semenanjung Korea: Masih Sebatas Perang Kata

Ilustrasi F-22 Raptor, pesawat tempur generasi kelima berkualifikasi siluman (stealth) yang tidak kasat radar seharga 120 juta dollar AS (sekitar Rp1,62 triliun) digunakan dalam latgab AS-Korsel (mulai 4/12).

KONFLIK di Semenanjung Korea antara Korea Selatan bersama AS melawan Korea Utara belum beranjak dari sekedar perang kata-kata, walau kedua belah pihak yang berseteru terus melakukan persiapan menghadapi perang sesungguhnya.

AS dan sekutunya, Korsel, selama lima hari sejak Senin (4/12) menggelar latihan perang-perangan Vigilant Ace yang disebut sebagai latihan rutin, tidak ada kaitannya dengan menghangatnya situasi kawasan atau provokasi Korut.

Pihak AS dan Korsel mengaku, latihan besar-besaran itu hanyalah latihan rutin setiap tahun di akhir musim gugur guna menguji kemampuan dan koordinasi tempur kedua negara menghadapi serangan lawan.

Latgab AS dan Korsel nyatanya digelar kurang sepekan setalah Korut meluncurkan  rudal balistik antarbenua Hwasong 15 yang disebut-sebut mampu menjangkau seluruh lokasi di wilayah AS, Jepang sampai Australia.

Menurut pihak AS, Hwasong 15 melayang sejauh 1.500 Km selama 50 menit sebelum tercebur di Laut Jepang. Rudal ini diperkirakan mampu menjangkau ketinggian 4.000 Km dan sasaran sejauh 13.000 Km.

Sebaliknya, Korut menyebutkan bahwa latihan yang dilancarkan Korsel dan AS bisa memperburuk situasi keamanan di Semenanjung Korea karena mengarah pada perang nuklir dan jelas-jelas sebagai persiapan menyerang negaranya.

Tidak tanggung-tanggung, AS saja mengerahkan puluhan pesawat udara berbagai jenis termasuk 18 pesawat tempur F-35 Lightning- IIdan enam F-22 Raptor 24 yang berkualifikasi stealth atau siluman yang tidak kasat radar dan didukung 2.300 personil.

F-35 yang berharga 63 juta dollar AS (sekitar Rp850 milyar) per unit dan F-22 dibandrol 120 juta dollar AS (sekitar Rp1,6 triliun) adalah jenis pesawat generasi kelima milik AS yang sejauh ini masih digunakan sendiri (belum diekspor).

Sebanyak 230 pesawat berbagai jenis akan diluncurkan dari delapan pangkalan yang berbeda di wilayah Korsel menuju simulasi sasaran berupa titik-titik pusat peluncuran rudal dan nuklir Korut.

 

China Sesalkan latgab AS-Korsel

Rusia dan China – konco dan penndukung utama Korut – selain menyesalkan ujicoba rudal yang dilakukan negara mitranya itu juga mengecam latihan besar-besaran yang digelar AS dan Korsel.

China menilai AS dan Korsel tidak memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan isu terkait konflik di kawasan itu saat Korut jedda ujicoba rudal selama dua bulan terakhir ini.

Sedangkan Rusia menuding AS secara sengaja memprovokasi pemimpin Korut Kim Jong Un agar lepas kendali untuk menyerang AS, dan kemudian dijadikan dalih bagi AS menyerang balik.

Perang Korea yang meletus pada 1950 – 1953 yang terjadi akibat invasi Korut ke Korsel, merenggut sekitar 673.000 nyawa pasukan Korsel dan 50.000 tentara AS, 145.000 pasukan China dan mungkin lebih satu juta tentara Korut (tidak terkonfirmasi) dan jutaan warga sipil.

Jika pecah perang lagi, dengan keunggulan teknologinya, AS dan Korsel mungkin akan menyelesaikan secepatnya, namun demikian, jika Korut mengambil inisiatif penyerangan, ribuan pucuk artileri yang disebar di sepanjang perbatasan bakal  mengancam ribuan warga Korsel.

Makanya, mikir dulu sebelum memulai perang, karena yang bakal paling menderita dan sengsara adalah rakyat kedua negara. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

Advertisement