JAKARTA – Namanya Rulli Nur Handoko. Sejak tahun 2000 hingga rentang 2008 ia hidup menggelandang di jalan. Masa kelam itu bermula ketika kelas 3 SMA di tahun 1999 Rulli meminta sepeda motor kepada orang tuanya.
Namun hanya rasa kecewa yang Rulli terima karena permintaannya tak dikabulkan, Rulli pun memutuskan ‘kabur’ dari rumah. Selama hidup di jalanan, hari-harinya dihabiskan dengan mengamen dan tidur di emperan toko. Uang yang didapatkannya, untuk minum-minuman keras hingga melancong dari kota ke kota.
“Jarang pulang, paling tiga bulan sekali. Kalau di jalanan tidur ya di emperan toko,” kisahnya seperti dilansir Kompas.com.
Suatu hari Rulli mendatangi acara musik meski dirinya pada saat itu belum sembuh betul dari kecelakaan yang menimpanya. Ruli jatuh dari atas truk di tol Cirebon saat perjalanan dari Yogyakrta ke Kota Depok.
Di acara musik tersebut Rulli dinasihati supaya bisa memulai untuk menata hidup. Namun Rulli merasa bingung mencari pekerjaan.
“Saya sudah capek hidup di jalanan, mau mencari pekerjaan tapi kan ada tatto. Saya berpikiran pasti sulit, karena tatto jaman segitu masih dianggap tabu,” terangnya.
Rulli akhirnya memutuskan untuk mencoba membuka usaha sablon kaus kecil -kecilan di rumahnya.Bermodal uang Rp 60 ribu pemberian pacarnya yang sekarang menjadi istri dan menggunakan alat bekas milik kakaknya, Rulli mulai merintis usaha sablon.
“Saat main ke rumah teman-teman jalanan, ternyata mereka punya usaha sablon dan saya sempat bantu-bantu, hingga tahu lah sedikit ilmunya. Tapi masih sablon manual,” tuturnya.





