Trump Baca Buku IPS RI?

Nah lho, di Washington sendiri rakyat AS juga menentang statemen Trump soal Yerusalem.

ALMARHUM pelawak Srimulat Asmuni dulu sering mengatakan, “Sedikit kata-katamu, tapi sengak didengar!” Apa lagi bila yang mengucapkan seorang pemimpin dunia, meski ucapan itu hanya beberapa patah kata, sengak dan dampaknya bisa mendunia. Maka ketika Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dunia heboh rame-rame mengecam Presiden AS ke 45 itu. Jangan-jangan, Donald Trump berani menyatakan itu, juga setelah membaca buku IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) kelas VI SD di Indonesia. Karena buku tersebut jelas-jelas menyebut: ibukota Israel Yerusalem.

Sebelum dilantik jadi Presiden AS, Barack Obama presiden pendahulunya pernah “menguliahi” Donald Trump bagaimana sikap menjadi pemimpin dunia. Tentu saja wejangannya bukan seputar “Hasta Brata”-nya Prabu Rama kepada Raden Barata dalam kisah perwayangan, melainkan bagaimana harus bisa mengontrol emosi. Sebab jadi Presiden AS itu omongannya bisa mempengaruhi dunia. Rupanya Barack Obama tahu, Donald Trump yang pengusaha itu punya kebiasaan buruk: ngomong dulu baru mikir, bukan mikir dulu baru ngomong!

Ternyata benar! Omongan presiden pendahulunya itu tak didengerin. Kebiasaan Donald Trump ngomong clap-clup (ucapan di luar kendali) masih terus dipelihara. Paling baru, tanggal 6 Desember lalu dia mengakui bahwa ibukota Israel adalah Yerusalem. Gara-gara statemennya tersebut, sekarang Donald Trump dikecam dunia. Sebab meski sedikit kata-kata itu, tapi sengak didengar bagi para pemimpin dunia, khususnya negara-negara Islam. Ucapan itu bisa memancing ketegangan baru di wilayah Timur Tengah.

Selama ini, sejak tahun 1948 malah, masyarakat dunia hanya mengakui bahwa ibukota Israel ya Tel Aviv. Sebab Yerusalem adalah wilayah Palestina. Sebetulnya, sejak Israel memproklamirkan diri sebagai sebuah negara di 14 Mei 1948, dia menyatakan bahwa ibukota negaranya adalah Yerusalem. Tapi dunia internasional tak mengakuinya, kecuali negara El Salvador dan Kosta Rica. AS saja yang selama ini selalu memback up Israel, juga tak mengakui Yerusalem sebagai wilayah Israel.

Pengakuan Presiden Donald Trump memang sangat ditunggu-tunggu oleh PM Benyamin Netanyahu, juga PM-PM Israel sebelumnya. Sebab jika AS sudah mengakui, biasanya negara-negara lainnya tinggal makmum saja. Jadi seperti orang kenduri di kampunglah; ketika pak modin bacakan doa, para hadirin tinggal mengamini saja.

Tapi “modin” model AS ini lain. Justru para pemimpin dunia termasuk Indonesia mengecam pernyataan itu. Mereka yang selama ini menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, juga ogah memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Bahkan umat muslim Indonesia, sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina, akan menggelar demo besar-besaran di Jakarta.

Tapi yang sungguh di luar dugaan, ucapan Presiden AS itu pada akhirnya juga menyeret dunia pendidikan di Indonesia. Kok bisa? Bisa saja, karena di jaman now sekarang ini dunia medsos sangat bisa mempengaruhi dunia. Apa kata warganet, akan menjadi trending topic, meski itu semua kebanyakan hanya pekerjaan orang lambe nggambleh dan lambe turah (baca: nyinyir).

Soalnya, bersamaan dengan omong clometan Presiden AS, dunia pendidikan di Indonesia juga ikut heboh gara-gara ditemukan “novum” baru. Dalam buku pelajaran IPS untuk anak SD kelas VI terbitan PT Intan Pariwara-Yudistira ditemukan narasi  bahwa ibukota Israel adalah: Yerusalem. Keruan saja penerbit dan penulisnya jadi sorotan, bahkan Mendikbud Muhadjir Effendy pun terkena getahnya. Padahal sebetulnya itu buku lama produksi tahun 2009, untuk mendukung KTSP  (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)  pada kurikulum 2006.

Kita berkhusnudzon sajalah. Jangan-jangan, Presiden AS Donald Trump berani bikin statemen seperti itu juga setelah membaca buku IPS untuk anak SD di Indonesia tersebut. “Thats right (betul juga).” kata Trump. Dan setelah statemen itu dikutip pers gegerlah sedunia. (Cantrik Metaram)

Advertisement