JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menginstruksikan para dokter anak dan masyarakat untuk tidak melakukan pemberian vaksin baru demam berdarah dengue (DBD), mengikuti jejak Filipina.
Hal ini menyusul hasil penelitian terbaru dari Sanofi Pasteur, perusahaan asal Prancis yang memproduksi vaksin tersebut, yang menyebut vaksin tersebut justru berbahaya bagi mereka yang belum pernah terjangkit virus dengue.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan menyebut langkah yang ditempuh asosiasi dokter anak ini sebagai langkah antisipatif.
“Antisipatif, persoalannya ‘kan di negara tetangga seperti itu dan juga si company-nya sendiri membuat rilis. Ketika ada reaksi seperti ini dan ada reaksi di luar negeri itu memang anggota banyak yang menanyakan. Sembari kita sendiri belum tahu apa yang betul-betul kejadian, untuk sementara kita lakukan penundaan dulu pemakaian,” ujar Aman kepada BBC Indonesia.
Pada akhir bulan lalu, Sanofi Pasteur mengumumkan hasil penelitian lanjutan yang dilakukan selama enam tahun untuk menganalisis keamanan jangka panjang menunjukkan vaksin ini justru memicu infeksi dengue lebih parah pada orang yang belum pernah terinveksi virus dengue.
Pimpinan global medical dari Sanofi Pasteru, Su-Peing Ng, menjelaskan temuan ini menyoroti sifat kompleks infeksi DBD.
“Kami bekerja sama dengan otoritas kesehatan untuk memastikannya resep, vaksinasi dan pasien diinformasikan secara lengkap terkait temuan baru ini, dengan tujuan untuk meningkatkan dampak dengvaxia di negara-negara endemik endemik,” kata Su-Peing.
Indonesia sendiri menjadi salah satu dari lima negara lokasi uji klinis vaksin sebelum beredar. Selama enam tahun sejak 2011, sebanyak 1870 anak di Jakarta, Bandung dan Bali menjadi sampel uji klinis.
Sri Rezeki yang menjadi peneliti utama vaksin dengue di Indonesia mengklaim, dari total jumlah itu, tidak ditemui kasus DBD berat.
Kendati begitu Sri mengakui vaksin baru tidak bisa langsung sempurna dalam sekali pembuatan. Meski melalui proses uji klinis vaksin yang beredar di pasaran tetap harus dipantau.
Merespon penelitian baru vaksin dengvaxia oleh Sanofi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemakaian vaksin DBD hanya untuk daerah yang sangat endemik DBD.
WHO juga akan melakukan peninjauan data kembali melalui Komite Penasihat Global untuk Keselamatan dan Sasaran Vaksin untuk merevisi panduan penggunaan Dengvaxia.
Selain itu, WHO mendesak Sanofi Pasteur untuk segera bertanggung jawab dan memberikan lebih banyak data tentang efektivitas dan keamanan pada penerima vaksin seronegatif awal.





