GEMPA berpusat di daratan Tasikmalaya, Jawa Barat, jelang Jumat tengah malam (15/12) yang berdampak sampai wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta terbilang kecil, kewaspadaan perlu ditingkatkan menghadapi gempa-gempa berikutnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencacat, tiga korban tewas yakni Ny. Aminah (80), warga Pekalongan Timur, Jateng, Ny. Dede (62) warga Ciamis, Jabar dan Fatimah (34), warga Bantul, Yogyakarta akibat gempa berkekuatan Magnitudo 6,9 itu.
Pusat atau epicentrum gempa berada di kedalaman 107 km di darat, 42 kilometer sebelah barat daya Kawalu, Tasikmalaya.
Selain itu gempa membuat 228 unit rumah terutama di Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran yang berdekatan dengan pusat gempa mengalami kerusakan berat, 152 rusak sedang, 97 rusak ringan dan sekitar 500 unit belum terklasifikasi.
Earth Logs bahkan memprakirakan, akan terjadi gempa besar disusul tsunami di kawasan Samudera Hindia menjelang tutup tahun 2017 walau dibantah oleh BMKG mengingat sejauh ini belum ada alat yang bisa meramal gempa.
“Masyarakat agar tidak terpancing karena ramalan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sampai saat ini belum ada teknologi yan mampu meramal gempa, “ kata Deputi Bidang geofisika BMKG Mohammad Sadly.
Kepanikan tidak hanya dialami warga di sekitar pusat gempa seperti di Pangandaran yang berhamburan menjauhi pantai atau warga di kaki Gunung Cikurai dan Ciawu, Kab. Garut yang memilih mengungsi di lokasi ketinggian di perbukitan.
Penghuni apartemen Kalibata City di bilangan Jaksel juga berhamburan menggunakan anak tangga darurat meninggalkan gedung dan baru kembali setelah pihak pengelola menyatakan bangunan aman dan gempa sudah berlalu.
Perlu ditingkatkannya kewaspadaan oleh instansi yang bertanggung jawab dan warga sangat beralasan mengingat menurut ahli gempa ITB, Irwan Meilano, telah teridentifikasi sesar baru berpotensi memicu gempa di Jawa dari empat pada 2010 menjadi 34.
“Gempa di zona subduksi di Samudera Hindia di selatan Jawa bisa berkekuatan lebih dari M 8,7 sehingga berpotensi tsunami, “ kata Irwan yang juga Ketua Kelompok Kerja Tim Revisi Peta Gempa Nasional 2010.
Bahkan peneliti ITB lainnya, Rahma Hanifa memprakirakan, jika segmen gempa di selatan Jawa runtuh bersamaan seperti terjadi di Aceh pada 2004, potensi kekuatan gempa bisa mencapai skala M 9,2.
“Sumber gempa di daratan dan di bawah laut di selatan Jawa di Samudera Hindia bisa menjadi ancaman serius, “ kata Rahma mengingatkan.
Lagi-lagi dituntut tindakan mitigasi berupa kesiapan terus menerus instansi dan organisasi yang terlibat dalam penanganan bencana termasuk warga untuk melakukan simulasi-simulasi tanggap bencana.
Kesadaran harus terus ditanamkan bahwa mitigasi mutlak guna menekan risiko bencana alam, tidak cukup sekedar seremoni-seremoni yang sarat retorika.





