Pilpres Liberia: Dari Sepakbola ke Presiden

Pemain bola George Weah, dari pesepakbola terkenal di klub-klub Eropa dan penyandang Ballon d'or (Bola Emas) memenangi pilpres putaran kedua Liberia (26/12) (foto: Zambianews)

KETENARAN George Weah setelah malang-melintang, merumput di klub-klub sepakbola besar di Eropa menjadi modal utama yang mengantarkannya untuk memenangi putaran ke-2 pilpres Liberia (26/12).

Dengan mengantongi 70 persen suara, Weah, satu-satunya warga Afrika yang pernah menyandang penghargaan Ballon d’Or (Bola Emas) pemain bola terbaik, tinggal selangkah lagi menjadi “Orang Nomor 1” di negerinya.

Weah saat berkiprah sebagai pemain bola, pernah membawa klub AC Milan dua kali menjuarai liga Itali, mengantarkan Paris St. Germain sebagai juara liga Perancis dan pernah pula membela klub Inggeris Chelsea dan Manchester City.

Manajer kampanyenya, Morluba Morlu menyebutkan bahwa Weah tinggal menanti hasil pengumuman resmi perolehan suara pilpres dan pendeklarasiannya   sebagai presiden oleh komisi pemilihan (KPU) setempat.

Pilpres yang digelar di salah satu negara Afrika Barat itu , Selasa lalu adalah putaran kedua kontestasi antara Weah dan pesaingnya, Wapres petahana Joseph Boakai (73), sosok yang dikenal bersih dari praktek korupsi.

Di putaran pertama, Weah mengantongi 38,4 persen suara, sementara Boakal 28,8 persen suara, sehingga perlu digelar  putaran kedua, karena tidak ada yang memperoleh suara mayoritas (diatas 50 persen).

Pilpres yang diikuti sekitar 2,2 juta pemilih digelar setelah petahana yang juga penyandang Nobel perdamaian dan presiden wanita pertama di Afrika, Ellen Johnson Sirleaf (79) mengundurkan diri setelah menjabat dua periode.

Pilpres yang berlangsung damai, bebas insiden dan terorganisasikan dengan rapi tersebut dipuji sejumlah kalangan termasuk pemantau dari Uni Eropa (EU) dan jaringan Pemantau Pemilu Liberia yang menyebarkan 1.000  sukarelawan .

“Tidak ada insiden. Proses pemungutan suara berlangsung damai, “ kata Ketua Komisi Pemilu Liberia Francis Korkoya, sedang mantan Presiden Afrika Goodluck Jonathan yang memimpin tim pemantau di AS juga berpandangan sama.

Goodluck menilai, transisi kepemimpinan di Liberia memiliki makna penting karena mencerminkan keberhasilan di kawasan Afrika Barat dan bahkan Afrika seluruhnya.

Pilpres damai di Liberia diharapkan akan ditiru di negara-negara tetangganya di kawasan benua hitam, Afrika yang sebagian masih sering diwarnai gejolak.                                                                    (AFP/AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement