GHOUTA – Karim Abdallah, bayi berusia dua bulan, yang kehilangan ibu dan mata kirinya akibat serangan udara bulan lalu di Ghouta Timur, sebuah daerah pinggiran kota Damaskus, menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Assad Suriah.
Ribuan orang telah menyatakan dukungan mereka untuk anak tersebut melalui kampanye media sosial online.
Menurut ayah bayi tersebut, persediaan medis yang diperlukan tidak dapat ditemukan di Ghouta Timur, yang tetap berada di bawah pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.
“Saya ingin anak saya dirawat di rumah sakit yang layak di luar Ghouta Timur,” kata Abu Mohammed.
“Dokter setempat melakukan yang terbaik,” tambahnya. “Tapi untuk menyelamatkan matanya yang kedua, Karim membutuhkan perawatan di luar negeri.” tambahnya, dilansir Anadolu.
Dia melanjutkan dengan mengatakan ada “ratusan” bayi lain seperti anaknya yang juga harus dievakuasi dari distrik yang terkepung sehingga mereka mungkin menerima perawatan medis yang dibutuhkan di luar negeri.





