BANDUNG – Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan vaksin yang diproduksi PT Bio Farma telah diekspor ke 136 negara dan 50 negara diantaranya negara muslim, termasuk Arab Saudi.
“Saya salut lihat Bio Farma sudah 128 tahun eksis, dan jadi nomor empat terbaik di dunia dari 200 perusahaan vaksin,” kata Nila dalam kunjungannya ke PT Bio Farma di Bandung, Sabtu (13/1/2018).
Nila menjelaskan Bio Farma merupakan perusahaan vaksin paling besar setelah Eropa, Amerika Serikat, dan India di dunia. Selain itu, sebanyak 70 persen kebutuhan vaksin secara global dipasok dari Indonesia, India, dan China.
Vaksin Bio Farma juga telah mendapat sertifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Di Asia Tenggara, Bio Farma menjadi satu-satunya produsen vaksin yang mendapat sertifikasi dari WHO.
Dilansir Antara, Nila menyangkal anggapan yang ada bahwa vaksin Bio Farma yang murah, atau bahkan gratis bukan berarti kualitasnya tidak lebih bagus dari produk impor.
Pemerintah Indonesia tengah melaksanakan imunisasi ulang atau “Outbreak Response Immunization” (ORI) terkait kejadian luar tersediaan vaksin difteri yang diproduksi oleh Bio Farma mencukupi untuk pelaksanaan ORI maupun imunisasi rutin.
Selain itu pemerintah memastikan ketersediaan antidifteri serum (ADS) untuk pengobatan pada pasien yang positif terjangkit difteri cukup untuk 2018.





